
JAKARTA, (Cakrayudha-hankam.com) – Ketua Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) Meutya Viada Hafid mengapresiasi kerja Pusat Psikologi Tentara Nasional Indonesia (Puspsi TNI). Lantaran sudah berupaya memberikan dukungan dan layanan psikologi bagi prajurit TNI dalam pelaksanaan tugas pokok.
“Puspsi TNI memainkan peran penting dalam meningkatkan kemampuan psikologi prajurit TNI. Khususnya dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) di TNI maupun masyarakat sipil,” kata Meutya, Minggu (9/6/2024).
Dalam Jurnal Humanitas tahun 2023, Stres Kerja Ditinjau Dari Kecerdasan Emosional TNI-AD Bintara Tamtama di Kota Medan. Berdasarkan kategorisasi yang didapat bahwa dari 150 anggota TNI-AD terdapat 78 subjek (52%) yang mempunyai stres kerja rendah.
Lalu ada 71 subjek (47,3%) yang mempunyai stres kerja sedang dan ada 1 subjek (0,7%) yang mempunyai stres kerja tinggi. Dari 150 anggota TNI-AD terdapat 78 subjek (52%) yang mempunyai stres kerja rendah.
Lalu ada 71 subjek (47,3%) yang mempunyai stres kerja sedang dan ada 1 subjek (0,7%) yang mempunyai stres kerja tinggi. Berdasarkan hasil penelitian dalam dimensi stres kerja sedang dan stress kerja berat sudah 50%, ini masuk ke dalam bentuk stres juga.
Sehingga, ucap Meutya, hal itu menyebabkan suatu permasalahan di instansi. Ini yang berdampak kepada performa dari instansi itu sendiri.
“Penyebabnya, jelas yakni terdapat ketidakseimbangan psikis dan fisik yang memberi pengaruh emosional. Tahapan pemikiran dan keadaan personel TNI dalam menjalankan pekerjaannya,” ujarnya.
Pusat Psikologi TNI (Puspsi TNI) menjadi satu diantara lima satuan atau organisasi baru yang dibentuk Mabes TNI. Melalui Amanat Perpres Nomor 66 Tahun 2019 tentang Susunan Organisasi TNI.
Pada 26 Januari 2022, Puspsi TNI akhirnya resmi berdiri dan bertugas. Ini untuk menyelenggarakan dukungan dan layanan psikologi secara terpadu dan integratif dalam rangka pelaksanaan tugas pokok TNI. (**)
Sumber: rri.co.id
