Di Balik Loreng, Ada Hati

    0
    102

    Safari Honai dan Persaudaraan yang Tumbuh di Kampung Kimak

     

    PAPUA, Cakrayudha-hankam.com – Langit mendung meliputi Pegunungan Papua saat sekelompok prajurit berseragam loreng menelusuri medan yang terjal dan sepi. Namun, tujuan mereka bukan untuk mengintai atau menguasai. Mereka hadir membawa sesuatu yang lebih berharga daripada senjata: ketulusan, kasih sayang, dan kepedulian. Ini terjadi pada Selasa, 17 Juni 2025.

    Inilah wajah sejati dari Safari Honai, sebuah program kemanusiaan yang digagas oleh Satgas Yonif 700/Wira Yudha Cakti, yang kembali menjalin hubungan dengan masyarakat adat di Kampung Kimak, Distrik Omukia, Kabupaten Puncak. Di tanah yang dingin itu, para prajurit mengunjungi honai milik Bapak Jatinus Murib, Kepala Suku Dany, bukan sebagai tamu, melainkan sebagai saudara.

    Dalam suasana hangat yang tulus, para prajurit berdialog dari hati ke hati. Mereka memberikan bantuan sembako, menyapa anak-anak, dan mendengarkan keluh kesah warga dengan penuh empati. Di balik interaksi sederhana ini, terjalinlah hubungan yang tidak dapat dilihat oleh mata, tetapi dapat dirasakan oleh hati.

    “Safari Honai bukan sekadar tentang datang, memberikan, dan pergi. Ini adalah tentang kehadiran yang tulus, pemahaman terhadap nilai-nilai budaya, serta membangun kepercayaan yang mendalam,” kata Lettu Inf Warda, Pasi Teritorial Satgas Yonif 700/WYC. “Kami ingin masyarakat memahami bahwa TNI hadir tidak hanya untuk menjaga keamanan, tetapi juga untuk merangkul mereka.”

    Salah satu momen paling mengharukan terjadi ketika seorang prajurit menyerahkan karung berisi bahan pangan langsung kepada Bapak Jatinus. Ini bukan hanya sekadar bantuan logistik, melainkan simbol solidaritas dan penghormatan terhadap adat serta kearifan lokal.

    “Kami sangat terharu. Ini bukan kunjungan biasa, melainkan kunjungan yang penuh kasih. Anak-anak kami senang, dan kami merasa diperhatikan. Ini adalah pertama kalinya honai kami dikunjungi dengan niat sehangat ini,” ungkap Bapak Jatinus dengan suara lembut namun penuh makna, sementara matanya berkaca-kaca.

    Mereka datang tanpa sorotan kamera dan tanpa gembar-gembor. Namun, jejak yang mereka tinggalkan akan abadi dalam ingatan masyarakat. Dari honai kecil di Kampung Kimak, terjalinlah ikatan persaudaraan yang meluas seperti lembah-lembah Papua itu sendiri.

    Safari Honai bukan sekadar program; ia adalah napas kemanusiaan yang berjalan kaki, mendaki bukit, dan mengetuk pintu honai untuk menyentuh hati. Dalam setiap langkah prajurit tersebut, Indonesia hadir bukan dalam bentuk kekuasaan, melainkan dalam pelukan yang tulus.

    Ditulis oleh:
    (Letkol Inf Iwan Dwi Prihartono, Dansatgas Media HABEMA/Red-033)