Di Balik Kabut Pintu Jawa

    0
    83

    Saat Nanas dan Daun Ubi Menyatukan Hati Prajurit dan Mama Papua

     

    PAPUA, Cakrayudha-hankam.com – Di lembah yang tenang, diselimuti kabut khas pegunungan Papua, tawa dan canda mengisi keheningan pagi itu. Senin (14/04/2025) menjadi hari istimewa di Pos Satgas Yonif 700/WYC Koops Habema. Bukan karena operasi militer, melainkan karena seikat sayur, segerombol nanas, dan tawa tulus dari mama-mama Papua.

    Satgas TNI mengadakan kegiatan “Pasar Pintu Jawa Mama Papua” yang bukan hanya sekadar program sosial, tetapi juga sebuah gerakan kecil dengan dampak besar: membeli hasil kebun masyarakat dari Kampung Biondikime, Wombru, dan Giligi. Di atas tanah yang keras dan jauh dari keramaian kota, terjalin ikatan persaudaraan melalui aktivitas sederhana: berbelanja dan saling menyapa.

    Mama Pindina, yang berjalan kaki dari Kampung Biondikime sambil membawa pikulan berisi nanas dan daun ubi, merasa terharu ketika semua hasil kebunnya dibeli oleh anggota Satgas.

    “Kami datang dari jauh, tetapi hati kami senang karena anak-anak tentara membeli semuanya. Kami pulang dengan senyuman,” katanya dengan suara bergetar, sambil memeluk erat nanas terakhir yang belum terjual.

    Kegiatan ini bukan sekadar transaksi ekonomi, melainkan juga pertukaran kasih dan penguatan rasa saling percaya. Letda Inf Risal, Danpos Pintu Jawa, menjelaskan bahwa acara ini merupakan bagian dari upaya TNI untuk terlibat dalam kehidupan masyarakat.

    “Ini bukan sekadar belanja biasa. Ini adalah cara kami menunjukkan bahwa kehadiran TNI tidak hanya berkaitan dengan keamanan, tetapi juga dengan dukungan terhadap ekonomi rakyat dan rasa kemanusiaan, terutama bagi para mama pejuang di kebun-kebun yang sepi,” jelasnya.

    Dengan latar belakang spanduk sederhana bertuliskan “Pasar Pintu Jawa Mama Papua”, terlihat jelas kehangatan yang terjalin antara prajurit dan masyarakat, yang begitu tulus. Senyuman saling bertukar di antara tumpukan pisang, karung daun ubi, serta obrolan mengenai cuaca dan panen yang akan datang.

    Kegiatan ini tidak hanya memberikan penghasilan langsung bagi warga, tetapi juga menciptakan ruang untuk dialog sosial antara aparat dan masyarakat. Di balik tumpukan nanas dan daun ubi, tersimpan nilai bahwa pembangunan dapat dimulai dari pasar kecil dan percakapan hangat di kaki gunung.

    Dari Pintu Jawa, kita belajar bahwa kekuatan sejati prajurit tidak hanya terletak pada senjata, tetapi juga pada empati yang mereka tanamkan dalam ladang kemanusiaan.

    Authentication:
    (Dansatgas Media HABEMA, Letkol Inf Iwan Dwi Prihartono/Red-033)