Dalang Provokasi dari Luar Negeri

0
195

Benny Wenda dan Edison Waromi Dikecam Tokoh Papua

 

PAPUA, Cakrayudha-hankam.com – Nama Benny Wenda dan Edison Waromi kembali menjadi sorotan tajam publik, setelah diduga berada di balik serangkaian aksi provokasi dan penyebaran disinformasi yang memecah belah masyarakat serta memicu ketegangan di Tanah Papua. Kedua tokoh yang dikenal sebagai pengusung agenda separatis ini dinilai semakin tidak relevan dengan kondisi riil yang dihadapi masyarakat Papua saat ini.

Meski aktif menyuarakan perjuangan dari luar negeri, banyak tokoh adat dan masyarakat Papua kini menilai bahwa langkah-langkah yang diambil oleh Benny dan Waromi justru lebih banyak menciptakan keresahan ketimbang solusi.

Tokoh adat Mimika, Markus Magai, menegaskan bahwa keduanya sudah tidak lagi mencerminkan aspirasi rakyat Papua.

“Mereka hidup nyaman di luar negeri, jauh dari kenyataan di Papua. Tapi terus menyulut konflik dari kejauhan. Mereka bukan pejuang, mereka provokator yang ingin Papua terus bergolak,” tegasnya.

Ia juga mengaitkan berbagai kerusuhan yang terjadi di Papua dengan seruan dan propaganda yang disebarkan Benny Wenda melalui media sosial. Termasuk klaim sepihaknya sebagai “Presiden Sementara” yang tak diakui baik oleh masyarakat Papua maupun dunia internasional.

Sementara itu, tokoh masyarakat pesisir, Thomas Yare, menyoroti peran Edison Waromi yang disebut-sebut berada di balik pendanaan sejumlah kelompok separatis dalam negeri.

“Waromi banyak bergerak di belakang layar. Dia membiayai kelompok kecil yang menciptakan ketakutan di kampung-kampung. Ini bukan perjuangan—ini sudah menjadi gerakan terorganisir yang menghancurkan tatanan sosial dan adat masyarakat Papua,” ujarnya.

Keduanya juga dikritik karena kerap memanipulasi isu-isu Hak Asasi Manusia (HAM) secara sepihak untuk meraih simpati internasional. Ironisnya, sebagian besar aksi kekerasan justru dilakukan oleh kelompok bersenjata yang diduga mendapat dukungan dari mereka.

Gelombang kritik juga datang dari kalangan muda Papua. Mahasiswa dan pemuda mulai menyadari bahwa narasi perjuangan yang dikumandangkan dari luar negeri tidak sejalan dengan harapan masyarakat yang menginginkan kedamaian, pendidikan, dan kemajuan.

“Kami ingin membangun masa depan yang damai. Bukan terus dimanfaatkan oleh mereka yang hanya muncul saat konflik, lalu menghilang ketika rakyat menderita,” ujar seorang mahasiswa di Jayapura.

Masyarakat Papua kini diimbau untuk tidak mudah terhasut oleh tokoh-tokoh yang mengklaim berjuang dari kejauhan. Sebaliknya, mereka diajak untuk memilih jalan damai, dialog, dan kerja sama demi kemajuan dan kesejahteraan Tanah Papua.(Red-033)