Anak Korban Bom Surabaya Lolos Rekrutmen Polri, Lanjutkan Perjuangan Bapak

    0
    109
    Aqiella Nadya Shafwah (kiri), calon siswa Sepolwan Lemdiklat Polri, tampak menangis saat diumumkan lolos seleksi rekrutmen Bintara Polri Tahun Anggaran 2024. Aqiella didampingi bapaknya, Ipda Ahmad Nurhadi, yang penglihatannya buta akibat peristiwa bom bunuh diri tahun 2018. [Foto: humas.polri.go.id]

    SURABAYA, (Cakrayudha-hankam.com) – Aqiella Nadya Shafwah, calon siswa Sekolah Polisi Wanita Lembaga Pendidikan dan Latihan (Sepolwan Lemdiklat) Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri), tampak menangis saat diumumkan lolos seleksi rekrutmen Bintara Polri Tahun Anggaran 2024.

    Aqiella Nadya Shafwah memeluk sang bapak, Ipda Ahmad Nurhadi, anggota polisi korban peristiwa Bom Surabaya 2018, yang hadir di sidang akhir pengumuman seleksi Bintara Polda Jawa Timur (Jatim).

    Staf Sumber Daya Manusia (SSDM) Polri, lewat Biro SDM Polda Jatim, mengikutsertakan Aqiella Nadya Shafwah dalam seleksi Bintara Polri sebagai bentuk penghargaan atas pengabdian Ipda Ahmad Nurhadi.

    Untuk diketahui, Ipda Ahmad Nurhadi mengalami kebutaan dan luka berat pada kaki kiri akibat bom yang meledak di Gereja Santa Maria Tak Bercela di Kota Surabaya, pada 6 tahun silam.

    “Bapak adalah korban bom tahun 2018. Saat itu saya masih sekolah SMP. Dari situ, saya bangga dengan bapak, bahwa bapak dalam pengabdiannya menjaga misa gereja, menjaga jemaat gereja, hingga mengorbankan diri bapak. Saya seperti ingin menjadi seperti bapak saya, pahlawan. Saya ingin menjadi seperti bapak saya, ingin meneruskan perjuangan bapak saya sebagai anggota Polri,” kata siswi lulusan SMA Negeri 16 Surabaya ini, kepada SSDM, Kamis (11/7/2024).

    Aqiella Nadya Shafwah kemudian mengilasbalik peristiwa Bom Surabaya 2018 yang merenggut penglihatan bapaknya. Aqiella menceritakan singkat peristiwa mengerikan yang menimpa bapaknya.

    “Yang masih terngiang-ngiang di hari itu, ketika Bapak saya dinas. Pamit dinas, bilangnya jaga gereja seperti biasa itu di hari Minggu, ya bapak berangkat tugas seperti biasa. Bapak jaga gereja bersama rekan satunya Om Junaidi. Posisinya Bapak itu ada di depan, di samping pos satpam. Tiba-tiba saat bergantian misa jemaat gereja itu, ada sepeda motor yang tiba-tiba nyelonong gitu masuk, ternyata mereka pelaku bom bunuh diri, teroris yang membawa dua bom. Jadi satu sepeda motor membawa dua bom. Terus ketika meledak, bapak saya terjatuh,” cerita Aqiella.

    Aqiella menyebutkan, saat itu dia mendapat kabar mengerikan itu dari rekan bapaknya. Aqiella pun hanya bisa menguatkan ibunya dan berharap sang bapak diberi keselamatan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa.

    “Tiba-tiba saya dapat kabar dari rekannya Bapak saya, ‘Wah ini gereja yang dijaga sama Bapak terkena bom’. Langsung saya kaget, saya lemas, kenapa kok harus Bapak saya yang kena, ya Allah. Saya nangis, saya saling menguatkan mama untuk, ‘Nggak apa-apa Ma, insya Allah, Bapak masih diberi kesempatan lagi sama Tuhan’,” lanjut Aqiella.

    Tak hanya mengalami kebutaan, Ipda Ahmad Nurhadi juga mengalami luka berat di bagian kaki kiri. Tulang kakinya hancur dan luka bakar 40 persen di bagian kiri tubuhnya.

    “Bapak tidak bisa melihat apa-apa, lalu sekujur tubuhnya panas. Jadi Bapak saya kehilangan penglihatannya, terus tulang kakinya hancur, hancur 12 senti tulang pergelangan yang sebelah kiri. Yang paling parah, yakni anggota tubuh sebelah kiri itu kena luka bakar 40 persen,” ungkap Aqiella.

    Ketabahan Jadi Semangat

    Aqiella mengatakan, saat itu dia sekeluarga merasakan kepedihan mendalam atas peristiwa yang dialami bapaknya. Namun, ketabahan serta semangat Ipda Ahmad Nurhadi melanjutkan hidup menjadi kekuatan dan motivasi Aqiella untuk melanjutkan tugas ayahnya sebagai abdi negara.

    “Saya sudah melihat perjuangan Bapak. Ini bagi saya sangat keren sekali. Jadi pengabdiannya Bapak ini bukan main-main, tapi sungguh. Bukan hanya sekadar bekerja mencari nafkah untuk keluarga, tapi mengabdi kepada masyarakat dan negara, sampai harus mengorbankan diri sendiri. Taruhannya nyawa,” tutur Aqiella.

    Aqiella mengaku dirinya yang sudah bertekad menjadi Polwan kemudian menyampaikan pada ayahnya. Aqiella mengatakan dan Ipda Ahmad Nurhadi mendukung niat Aqiella untuk melanjutkan pengabdiannya. Sementara, sang ibunda memasrahkan pilihan pada Aqiella.

    “Bapak mendukung saya, mendukung saya dengan cita-cita saya ini untuk meneruskan perjuangannya Bapak. Kalau Ibu diserahkan kepada saya, nggak ada paksaan. Pokoknya apa pun yang saya pilih, jika itu yang terbaik, maka akan didoakan, didukung juga,” ujar Aqiella.

    Direkrut Jalur Rekpro

    Masih kata Aqiella, dirinya mengikuti rekrutmen Bintara Polri lewat jalur rekrutmen proaktif (Rekpro). Meski demikian, Aqiella sudah mempersiapkan fisik, mental, serta kemampuan akademis sebelum proses seleksi.

    “Saya ini Bintara Polri jalur rekpro, penghargaan orang tua, penghargaan terhadap Bapak. Proses rekpro dengan regular sama saja, tapi rekpro setahu saya ada kuotanya. Tesnya nggak ada yang membedakan, sama-sama wajib mengikuti semuanya mulai dari jasmani, terus psikologi dan lain-lain sama saja. Jadi saya sebelumnya sudah mulai belajar untuk tes akademik, soal-soal psikologi, sama yang pertama pasti mempersiapkan mental dulu,” ucap Aqiella.

    Aqiella mempelajari soal-soal tes masuk Bintara Polri dari internet. Dalam persiapan tes jasmani, Aqiella mempersiapkan kemampuan renang, shuttle run, dan lainnya.

    “Belajar di internet gitu, sama persiapan fisik, latihan jasmani, lari, berenang, shuttle run kayak gitu di sela-sela sekolah,” sebut Aqiella.

    Serangkaian persiapan itu dilakukan Aqiella karena peserta rekrutmen jalur rekpro tak pasti lolos jika tak memenuhi syarat. “Nggak pasti lolos (peserta jalur rekpro), kalau dia nggak memenuhi syarat bisa nggak lolos, makanya saya juga persiapan akademis, mental dan fisik,” terang dia.

    Terakhir, Aqiella mengucapkan terima kasih kepada Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, Asisten Kapolri bidang Sumber Daya Manusia (As SDM Kapolri) Irjen Dedi Prasetyo, Kapolda Jatim Irjen Imam Sugianto dan Kapolrestabes Surabaya Kombes Pasma Royce yang dinilai memberinya kesempatan mengikuti proses rekrutmen Bintara Polri.

    “Bapak saya senang banget, dia seneng banget. Saya ingin mengucapkan terima kasih juga kepada Bapak Kapolri, Bapak Asisten SDM, Bapak Kapolda Jatim, dan Bapak Kapolrestabes Surabaya karena sudah memberikan saya kesempatan ikut di penerimaan Bintara 2.024 ini, dan juga untuk meneruskan perjuangan Bapak saya,” pungkas Aqiella. (**)

     

    Sumber: humas.polri.go.id