Disdik Muba Sebut Aksi Bullying Siswi SMP Negeri 5 Bukan Akting

    0
    140

    Musi Banyuasin,(Cakrayudha-hankam.com) – Kepala Dinas Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Musi Banyuasin (Muba), Iskandar Syahrianto membenarkan adanya bullying yang terjadi di ruang kelas SMPN 5 Sekayu yang viral di medsos.

    Bahkan Iskandar membantah terkait pernyataan pihak SMPN5 yang menyebutkan kejadian bullying itu hanyalah akting dalam pembuatan video pembelajaran P5 (Projek Penguatan Pelajaran Pancasila) dengan tema Bangunlah Jiwa Raganya dengan topik Stop Bullying.

    “Iya benar (itu bullying). Kami sudah mengecek langsung ke sekolah dan meminta keterangan dari korban dan pelakunya, kita menyayangkan kejadian ini bisa terjadi di suasana dalam menghadapi assesmen nasional berbasis komputer (ANBK),” kata dia saat dikonfirmasi, Jumat 6 September 2024.

    Tak hanya itu, Iskandar mengaku pihaknya telah memanggil para orang tua pelaku bullying dan korban untuk dimediasi dan dirinya mengklaim sudah ada perdamaian antara kedua belah pihak. “Kami juga memastikan atau menjamin proses pembelajaran berjalan baik bagi korban.

    Serta ada perdamaian antara korban dan pelaku, ” kata dia. Sebelumnya Saudara perempuan korban, Tari menjelaskan jika adiknya mengalami bullying terjadi pada 27 Agustus 2024 kemarin. Ada lima orang yang melakukan bullying terhadap adiknya.

    “Adik kami pulang dalam posisi jilbab sudah robek, di kening benjol. Terus dia bilang mau pindah sekolah karena takut dibully lima orang,” ujarnya saat dikonfirmasi Jumat 6 September 2024. Selain itu, Tari mengaku pinggang adiknya pun ditendang dan sempat diurut. Saat ini setiap pergi sekolah selalu ketakutan. Padahal adiknya baru pindah sekolah dari Bandung ke Sekayu.

    “Esoknya pada tangga 28 papa kami langsung ke sekolah dan cuma diselesaikan di kantor. Setelah kejadian itu malah kami dapat kabar, mereka ngebully kawan yang lain,” kata dia.

    Dirinya heran dan mempertanyakan respon sekolah atas kejadian ini. Dimana kepala sekolah tidak memberi dispensasi atau hukuman terhadap pembullyan adiknya. “Ini cuma disuruh selesaikan masalah di sekolah, habis itu pelaku cuma disuruh mengerjakan tugas sekolah.

    Kok mereka (pihak sekolah) bisa sepele dengan mental anak-anak, masalahnya adik saya jadi takut setiap mau pergi skolah karena terbayang-bayang prilaku temannya,” ungkapnya.

    Tak hanya adiknya, Tari mengaku sudah ada lagi keluarga korban lain yang baru berani speak up masalah pembullyan di sekolah tersebut. Karena selama ini takut untuk muncul ke publik.

    “Korbannya 2 orang dan sekelas dengan adik saya. Tadi pagi kami bersama Dikbud Muba, perlindungan anak dan perempuan, serta personil Polres Muba datang ke sekolah,” ucapnya.

    Namun dari hasil pertemuan tersebut, keputusan kepala sekolah tidak terima jika kasus ini diviralkan.

    Padahal menurutnya kalau tidak viral, maka tak diusut “Sekarang kepala sekolahnya masih belum memberi ngasih efek jera ke pelaku. Minimal diberi efek jera, diskors, atau dispensasi bila perlu,” pungkasnya mengakhiri perbincangan bersama awak media.(Red)