Jakarta,(Cakrayudha-hankam.com) – Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo memperkirakan, bank sentral Amerika Serikat (AS) The Fed bakal kembali menaikkan suku bunga acuannya. Padahal, pekan lalu The Fed baru saja menahan suku bunga acuan di level 5,00-5,25 persen.
Perry mengatakan, kenaikan Fed Fund Rate mungkin saja terjadi lagi lantaran ekonomi Negeri Paman Sam kini tengah dalam situasi cukup genting.
“Di Amerika Serikat, tekanan inflasi masih tinggi, terutama karena ketetatan pasar tenaga kerja, di tengah kondisi ekonomi yang masih cukup baik dan tekanan stabilitas sistem keuangan yang mereda. Sehingga mendorong kemungkinan kenaikan Fed Fund Rate ke depan,” ujarnya dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia, Juni (22/6).
Tak hanya Amerika Serikat, ia menyebut Eropa juga masih terus memperketat kebijakan moneter. Sebaliknya, pelonggaran justru dilakukan Jepang.
“Sementara di negara berkembang khususnya China, pertumbuhan ekonomi juga tidak sekuat perkiraan di tengah inflasi rendah. Sehingga mendorong pelonggaran kebijakan moneter,” imbuhnya.
Adapun ramalan BI tersebut senada dengan yang dilontarkan Ketua Federal Reserve, Jerome Powell. Dia menuturkan, lebih banyak kenaikan suku bunga akan terjadi karena bank sentral mencoba untuk memerangi inflasi.
Komentar tersebut muncul setelah hasil pertemuan pekan lalu ketika bank sentral AS menahan kenaikan suku bunga setelah 10 kal naik berturut-turut. Namun, pejabat The Fed mengindikasikan mungkin ada kenaikan suku bunga dua kali lagi sebesar 0,25 persen.
“Hampir semua peserta FOMC berharap akan tepat untuk menaikkan suku bunga lebih jauh pada akhir tahun,” ujar Powell.(Red)

