Kami Ingin Belajar, Bukan Dibakar

0
294

Suara Pilu Pelajar Papua atas Kekerasan OPM

 

PAPUA, Cakrayudha-hankam.com – Di tengah ketegangan yang terus membayangi wilayah konflik di Papua, jeritan hati para pelajar mulai terdengar jelas. Mereka bukan hanya menghadapi medan berat dan keterbatasan fasilitas, tetapi juga harus berjuang di tengah ancaman nyata dari kelompok bersenjata Organisasi Papua Merdeka (OPM) yang kerap menyasar fasilitas pendidikan.

Pembakaran sekolah, intimidasi terhadap guru, dan ketakutan yang menghantui ruang belajar menjadi potret nyata yang dirasakan para siswa di wilayah rawan seperti Intan Jaya, Puncak, dan sekitarnya. Harapan akan pendidikan seolah direnggut secara paksa—atas nama perjuangan yang tak pernah mereka pahami.

Seorang pelajar SMA dari Kabupaten Intan Jaya, yang identitasnya dirahasiakan demi alasan keamanan, mengisahkan dengan getir pengalamannya.

“Kami jalan kaki berjam-jam ke sekolah, kadang belum sarapan. Tapi begitu sampai, bangunannya sudah dibakar. Mereka bilang berjuang untuk kami, tapi justru menghancurkan impian kami,” ujarnya lirih.

Kekecewaan serupa datang dari para pendidik dan tokoh masyarakat yang menyaksikan langsung bagaimana kekerasan telah merusak hak dasar anak-anak untuk belajar. Pendeta Abraham Yikwa dari Nabire dengan tegas menyebut bahwa tindakan OPM bukanlah bentuk perjuangan, melainkan penghancuran.

“Kalau benar untuk rakyat Papua, mengapa yang diserang justru sekolah dan guru? Ini bukan pembebasan, ini sabotase terhadap masa depan generasi kami,” ujarnya.

Senada dengan itu, tokoh adat dari Kabupaten Puncak, Elias Murib, mengungkapkan keprihatinannya atas penderitaan masyarakat kampung yang terus menjadi korban kekacauan.

“Kami orang tua ingin anak-anak kami pintar dan hidup damai, bukan dijadikan tameng atau korban konflik yang bukan pilihan mereka. Sudah cukup,” tegasnya.

Dukungan moral terhadap para pelajar juga datang dari kalangan muda. Aktivis pemuda Jayapura, Frans Kogoya, menyoroti pentingnya menciptakan ruang aman dan damai bagi dunia pendidikan di Papua.

“Anak-anak ini bukan hanya korban, mereka saksi kehancuran. Saatnya suara mereka tidak diabaikan. Mereka ingin belajar, bukan lari dari bunyi tembakan,” katanya.

Meski hidup di tengah ketidakpastian dan trauma, semangat para pelajar Papua tak padam. Mereka masih menyimpan harapan, bahwa suatu hari nanti mereka bisa belajar tanpa rasa takut, membangun masa depan tanpa bayang-bayang kekerasan.

Kini, harapan itu mereka titipkan kepada negara, para tokoh adat, guru, dan seluruh elemen masyarakat: untuk bersatu melindungi hak mereka—hak untuk belajar, tumbuh, dan bermimpi di tanah kelahiran sendiri.(Red-033)