Kasus Keracunan di Bogor, 2 Sampel Makanan Mengandung Bakteri

    0
    75

    BOGOR, Cakrayudha-hankam.com – Pemerintah Kota Bogor telah mengumumkan hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel sisa makanan terkait kasus dugaan keracunan yang melibatkan ratusan siswa dan guru baru-baru ini.

    Menurut hasil analisis yang dilakukan oleh Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Kota Bogor, ditemukan dua jenis bahan makanan yang terindikasi mengandung bakteri coli dan salmonella.

    Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, menyampaikan bahwa ia menerima hasil pemeriksaan Labkesda pagi ini. Sampel yang diuji meliputi nasi, telur ceplok, tumis tahu, toge, dan bahan lainnya. “Hasil pemeriksaan lab yang dilakukan selama hampir empat hari terakhir menunjukkan bahwa beberapa bahan makanan mengandung bakteri coli dan salmonella,” ungkap Dedie saat ditemui di rumah dinasnya pada Senin (12/5/2025).

    Dia menjelaskan bahwa bakteri coli ditemukan dalam sampel makanan ceplok telur bumbu barbeque, yang berdasarkan data yang ada, dimasak pada malam hari dan didistribusikan keesokan harinya. Sementara itu, bakteri salmonella terdeteksi dalam sampel makanan tumis tahu dan toge.

    “Bakteri coli dan salmonella berasal dari dua jenis makanan yang disajikan kepada siswa, yang berdampak pada 200 siswa,” kata Dedie Rachim.

    Selain menganalisis sampel makanan, pihaknya juga melakukan pemeriksaan lebih lanjut terhadap sampel air dan siswa yang terdampak, yang memerlukan analisis lebih mendalam. Hasil dari pemeriksaan tambahan ini diperkirakan akan keluar sore ini.

    “Untuk pemeriksaan tambahan yang mencakup air dan tubuh siswa, hasilnya baru akan tersedia sore ini,” jelas Dedie.

    Dedie Rachim mengungkapkan bahwa hasil sementara menunjukkan adanya distribusi makanan yang terkontaminasi bakteri coli dan salmonella. Kontaminasi ini diduga berasal dari sampel makanan yang diuji di laboratorium, yang diambil dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Bosowa Bina Insani.

    Pemerintah Kota Bogor meminta agar insiden serupa tidak terulang di kota ini. Dedie Rachim juga menekankan perlunya penguatan standar operasional prosedur (SOP), termasuk pengawasan terhadap penyediaan makanan bergizi gratis (MBG).

    “Masalah ini tidak boleh dianggap remeh, karena kami menganggapnya sangat serius. Ketika anak-anak terpengaruh oleh dugaan keracunan makanan, Pemerintah Kota Bogor harus terlibat, terutama dalam penanganan medis,” ujarnya.

    Sebagai langkah cepat dalam penanganan, Pemkot Bogor telah menetapkan kejadian luar biasa (KLB) pada Kamis, 8 Mei 2025, untuk memastikan jaminan pembiayaan medis bagi korban di rumah sakit, yang akan ditanggung oleh APBD melalui anggaran biaya tidak terduga (BTT).

    Hingga kemarin, terdapat 12 siswa yang masih dirawat di rumah sakit dan menunjukkan tanda-tanda perbaikan. Sebagian besar dari mereka mengeluhkan gejala yang sama, seperti badan yang masih lemas, mual, dan pusing,” jelasnya.

    Dedie Rachim menegaskan bahwa jumlah korban yang diduga mengalami keracunan telah meningkat. Saat ini tercatat ada 213 orang, naik dari data sebelumnya yang mencatat 210 orang.

    “Memang ada keraguan, terutama bagi mereka yang tidak memiliki BPJS atau asuransi. Jika mereka harus dirawat di rumah sakit, siapa yang akan menanggung biayanya? Oleh karena itu, kami menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB) agar siapa pun yang terdampak dan terindikasi keracunan dapat mendapatkan perawatan di rumah sakit,” tutup Dedie.(Red-033)