Ketika Prajurit Marinir Menjadi Guru Mengaji Anak-Anak Yahukimo
YAHUKIMO, Cakrayudha-hankam.com – Saat senja perlahan menyelimuti Distrik Dekai, suara lembut ayat-ayat suci mulai menggema dari sebuah halaman yang diubah menjadi ruang belajar sederhana. Di tempat ini, para Prajurit Marinir dari Satgas Pamtas RI-PNG Mobile Yonif 1 memberikan cahaya pengetahuan kepada anak-anak Muslim Yahukimo, mengajarkan Al-Qur’an dengan penuh cinta dan kesabaran.
Tidak ada podium megah atau ruang kelas permanen. Hanya ada kerinduan akan ilmu dan kasih sayang yang tulus dari para penjaga perbatasan. Pada Kamis (1/5/2025), setelah waktu Maghrib, anak-anak berlarian menuju tempat belajar sambil membawa mushaf yang sudah usang dan semangat yang membara. Di depan mereka, para marinir berdiri bukan dengan senjata, melainkan dengan kitab suci di tangan dan senyuman di wajah.
Kami meyakini bahwa menjaga perbatasan tidak hanya berkaitan dengan aspek fisik, tetapi juga spiritual. Anak-anak ini adalah harapan masa depan. Mengajarkan Al-Qur’an merupakan cara kami untuk menanamkan nilai-nilai luhur yang akan terus hidup, ujar Letkol Marinir Siswanto, Dansatgas Yonif 1 Marinir.
Ini lebih dari sekadar pengajaran; ini adalah bentuk pengabdian. Para prajurit dengan sabar membimbing bacaan, memperbaiki tajwid, dan mengajarkan tata cara sholat dengan pendekatan yang penuh kehangatan. Mereka bertransformasi menjadi guru, sahabat, dan panutan bagi generasi muda yang mendambakan ilmu agama, meskipun dengan akses yang terbatas.
Kegiatan ini disambut oleh masyarakat dengan rasa haru dan syukur. Di mata mereka, TNI bukan hanya pelindung wilayah, tetapi juga penjaga moral dan harapan.
Pangkoops Habema, Mayjen TNI Lucky Avianto, mengungkapkan kebanggaannya terhadap dedikasi yang ditunjukkan. “Inilah wajah sejati TNI: kuat, lembut, dan peduli. Mengajarkan Al-Qur’an merupakan bentuk pengabdian spiritual yang paling tinggi. Saya sangat menghargai para prajurit yang hadir dengan penuh cinta dan membawa cahaya di tengah keterbatasan,” ujarnya dengan penuh kebanggaan.
Di balik seragam loreng dan disiplin militer, terdapat kelembutan hati yang mampu menyentuh jiwa. Dari Yahukimo, cahaya Al-Qur’an mengalir bersama prajurit yang memilih untuk tidak hanya menjaga perbatasan, tetapi juga merangkul harapan.
Sumber:
(Dansatgas Media HABEMA, Letkol Inf Iwan Dwi Prihartono/Red-033)

