TNI Bangun Pos di Papua untuk Lindungi Rakyat, Bukan Ciptakan Konflik
PAPUA, Cakrayudha-hankam.com – Ketegangan di Papua kembali meningkat setelah kelompok bersenjata TPNPB-OPM mengeluarkan ultimatum tegas: menolak pembangunan pos militer TNI di Puncak Jaya dan sembilan wilayah lain yang mereka sebut sebagai “zona perang”. Mereka bahkan mengancam akan menyerang TNI-Polri dan mengusir warga non-Papua. Namun, narasi ini hanyalah propaganda berbahaya yang dapat menyesatkan masyarakat. Kamis, 1 Mei 2025.
Sebenarnya, kehadiran TNI di Papua merupakan langkah yang sesuai dengan konstitusi, bukan sebuah provokasi. Sesuai dengan UUD 1945 Pasal 30 dan UU TNI Nomor 34 Tahun 2004, pembangunan pos militer dan pengamanan wilayah yang terpengaruh oleh separatisme adalah bagian dari tugas negara untuk menjaga kedaulatan dan keselamatan rakyat.
“Jangan salah paham. Ini bukan soal militerisme. Ini tentang melindungi masyarakat dari teror, ketakutan, dan kekerasan bersenjata,” kata seorang sumber militer yang meminta namanya dirahasiakan.
TNI Hadir untuk Memberikan Harapan, Bukan untuk Berperang
Dengan pendekatan yang humanis dan teritorial, TNI tidak hanya berfokus pada keamanan, tetapi juga berkontribusi pada pembangunan, memberikan dukungan dalam pendidikan dan kesehatan, serta aktif menjalin komunikasi sosial dengan masyarakat. Semua upaya ini sejalan dengan Inpres No. 9 Tahun 2020 mengenai Percepatan Pembangunan Kesejahteraan Papua.
TPNPB-OPM: Ancaman Terorisme
Tindakan TPNPB yang menyerang guru, tenaga medis, dan pekerja proyek infrastruktur sipil jelas melanggar hukum internasional serta Undang-Undang Anti-Terorisme. Mereka juga mengabaikan prinsip-prinsip Hukum Humaniter Internasional, seperti Distinction, Proportionality, dan Precaution. Ini bukanlah sebuah perjuangan; ini adalah bentuk intimidasi.
Kehadiran TNI = Kehadiran Negara
“Setiap pos militer di Papua bukanlah simbol penindasan, melainkan benteng perlindungan,” demikian pernyataan resmi dari TNI. Penempatan pasukan dilakukan sesuai dengan hukum, di bawah pengawasan ketat, dan berlandaskan profesionalisme.
Penutup: Hentikan Propaganda, Saatnya Membangun Papua Bersama
Indonesia tidak akan terpengaruh oleh propaganda dari kelompok separatis bersenjata. TNI hadir bukan untuk menakut-nakuti, tetapi untuk memastikan bahwa setiap jengkal tanah Papua tetap berada dalam pelukan damai NKRI. Kehadiran negara bukan untuk menindas, melainkan untuk melindungi.
Autentikasi:
(Dansatgas Media HABEMA, Letkol Inf Iwan Dwi Prihartono/Red-033)

