Loreng di Bawah Pohon Damai

    0
    84

    TNI dan Rakyat Nduga Rajut Persaudaraan di Ujung Papua

     

    PAPUA, Cakrayudha-hankam.com – Di bawah naungan pepohonan rindang di Pelabuhan Amor yang sejuk, suasana yang terdengar bukanlah dentuman senjata, melainkan tawa ceria dan percakapan akrab antara prajurit TNI dan masyarakat Nduga. Di sinilah Satgas Yonif 733/Masariku, yang dipimpin oleh Sertu Irfandi, menunjukkan sisi lain dari TNI: bukan sebagai penjaga yang kaku, melainkan sebagai sahabat yang hangat, siap mendengarkan dan merangkul dengan penuh kasih, pada Sabtu (26/04/2025).

    Melalui kegiatan komunikasi sosial (komsos), para prajurit tidak hanya menjalankan tugas mereka, tetapi juga berbaur dengan kehidupan masyarakat. Duduk bersila di tanah yang sama dan bersandar pada batang pohon yang serupa, mereka menyerap keluh kesah, harapan, dan kisah-kisah sederhana yang mencerminkan kehidupan di Nduga, semua dilakukan tanpa sekat dan jarak.

    Rajutan Harmoni di Balik Seragam Loreng
    Senyum tulus dan sapaan ramah menjadi senjata utama. Dalam balutan seragam loreng, para prajurit dengan seksama mendengarkan suara-suara kecil yang sering terabaikan. Tanpa doktrin yang kaku, percakapan mengalir, menciptakan ruang bagi kepercayaan untuk tumbuh perlahan namun pasti.

    Dansatgas Yonif 733/Masariku, Letkol Inf Julius Jongen Matakena, menegaskan bahwa inilah esensi dari pengabdian TNI.

    “Kami hadir bukan untuk ditakuti, tetapi untuk dirangkul dan merangkul. Komsos adalah jembatan kami untuk memahami, bukan hanya untuk mengamankan,” ujarnya.

    Harapan Tumbuh dari Tanah yang Tenang
    Bagi warga Nduga, momen ini lebih dari sekadar pertemuan. Ini adalah pengakuan bahwa suara mereka memiliki arti, bahwa di balik kesunyian dan tantangan hidup, ada pihak yang peduli. Tokoh masyarakat pun menyampaikan harapan mereka akan kedamaian dan pembangunan yang lebih merata. Mereka melihat prajurit TNI bukan hanya sebagai penjaga, tetapi juga sebagai saudara.

    Pangkoops Habema, Mayjen TNI Lucky Avianto, memberikan apresiasi terhadap pendekatan humanis yang diterapkan.

    “Damai tidak dapat dipaksakan. Ia muncul dari hati yang saling memahami dan tangan yang saling menggenggam. Itulah yang kami bangun hari ini bersama masyarakat Nduga,” ungkapnya.

    Cinta dan Damai dari Pelabuhan Amor
    Di lokasi yang dikenal sebagai “Amor,” yang berarti cinta dalam berbagai bahasa, pesan tersebut menjadi nyata: bahwa keamanan dan kedamaian tidak selalu dimulai dari strategi besar, melainkan dari langkah-langkah kecil yang tulus, seperti pelukan hangat seorang prajurit kepada rakyatnya.

    Dari bawah naungan pohon hingga ke dalam hati masyarakat, Satgas Yonif 733/Masariku meninggalkan jejak yang berarti: bukan hanya jejak patroli, tetapi jejak kemanusiaan yang mendalam dan terus berkembang dalam bentuk kepercayaan dan harapan baru.

    Authentication:
    (Dansatgas Media HABEMA, Letkol Inf Iwan Dwi Prihartono/Red-033)