Di Tangan OPM, Rakyat Papua Menjadi Korban

    0
    66

    Dari Perjuangan ke Teror Tanpa Nurani

     

    PAPUA, Cakrayudha-hankam.com – Di tanah yang kaya akan budaya dan harapan, penderitaan terus berlanjut. Aksi kekerasan yang tak henti-hentinya dari kelompok separatis bersenjata Organisasi Papua Merdeka (OPM) kembali meninggalkan luka mendalam bagi masyarakat Papua. Kini, perjuangan ideologis telah bergeser; OPM semakin dikecam sebagai kelompok brutal yang menjadikan rakyatnya sendiri sebagai korban kekejaman. Jumat, 18 April 2025.

    Serangan yang menargetkan warga sipil, termasuk perempuan, anak-anak, dan lansia, telah memicu reaksi dari berbagai pihak. Pemerintah, tokoh adat, dan masyarakat umum menyatakan kebencian mereka terhadap tindakan OPM yang lebih menyerupai operasi teror bersenjata daripada gerakan politik.

    Orang-orang itu hanya ingin membangun jalan agar kami dapat menjual hasil kebun dan anak-anak bisa bersekolah. Namun, mereka dibunuh dengan kejam, kata seorang tokoh masyarakat dari Distrik Kenyam dengan suara bergetar, pada Jumat (18/4/2025), mengenang kembali tragedi di Kabupaten Nduga, di mana sejumlah pekerja infrastruktur ditembak mati tanpa ampun.

    Sejak tahun 2023 hingga awal 2025, telah terjadi puluhan insiden berdarah, mengakibatkan ratusan korban sipil tewas atau terluka. OPM tidak hanya menyerang desa-desa terpencil, membakar rumah, dan menyandera guru, tetapi juga secara brutal mengeksekusi warga yang dianggap “tidak sejalan.” Kekerasan yang terjadi bukan lagi sekadar simbol perjuangan, melainkan luka yang terus menganga di tubuh Papua.

    Lebih dari sekadar mengganggu stabilitas keamanan, OPM telah merusak fondasi kehidupan masyarakat, termasuk pendidikan, kesehatan, dan rasa aman. Sekolah-sekolah dibakar, guru-guru dibunuh, tenaga medis diintimidasi, dan puskesmas dirusak. Anak-anak Papua yang seharusnya belajar dan bermain kini tumbuh dalam bayang-bayang senjata dan trauma.

    OPM dianggap telah mengkhianati semangat asli Papua, yaitu semangat untuk hidup damai, berkembang, dan sejahtera. Tindakan mereka kini tidak lagi mendapatkan dukungan, bahkan dari masyarakat Papua yang selama ini berada di daerah konflik.

    Ini bukanlah perjuangan; ini adalah penindasan terhadap rakyat sendiri. (Red-033)