Pemerintah Bakal Kurangi Muatan Pelajaran di Sekolah

    0
    147

    JAKARTA, Cakrayudha-hankam.com – Pemerintah berencana untuk mengurangi jumlah mata pelajaran (mapel) seiring dengan penerapan metode pembelajaran mendalam atau deep learning.

    Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menjelaskan bahwa dalam metode pembelajaran deep learning, siswa akan belajar dengan cara yang lebih mendalam dan kontekstual.

    Oleh karena itu, pengurangan materi pembelajaran di sekolah dianggap perlu agar siswa dapat lebih fokus.

    “Pembelajaran mendalam menekankan pendekatan konstruktivis, di mana deep learning merupakan proses pembelajaran yang mendalam dengan tingkat pemikiran yang lebih tinggi,” ungkap Mu’ti di Kantor Kemendikdasmen, Jumat (11/4/2025).

    Menurutnya, pembelajaran yang bermakna, kontekstual, dan memberikan kesempatan bagi siswa untuk mendalami materi yang mereka pelajari sangat penting.

    Pengurangan Muatan Pelajaran
    Lalu, mata pelajaran mana saja yang akan mengalami pengurangan muatan? Mu’ti menjelaskan bahwa pengurangan ini akan diterapkan pada semua mata pelajaran.

    Namun, Mu’ti belum merinci berapa persen pengurangan muatan yang dimaksud. “Semua mata pelajaran,” tegasnya.

    Sebelumnya, telah dilaporkan bahwa Mendikdasmen Abdul Mu’ti akan memperkenalkan konsep pendekatan belajar yang disebut deep learning di sekolah-sekolah. Mu’ti menyatakan bahwa pendekatan ini akan membantu siswa untuk belajar lebih mendalam dan memahami esensi dari proses pembelajaran.

    “Proses ini masih berlangsung dalam mempersiapkan penerapan deep learning,” ungkap Mu’ti dalam Seminar Nasional dan Sosialisasi Program Deep Learning yang disiarkan secara daring pada Senin (17/2/2025).

    Abdul Mu’ti menjelaskan bahwa keberhasilan implementasi metode pembelajaran mendalam, atau deep learning, sangat bergantung pada jumlah materi yang diajarkan.

    Ia menekankan bahwa materi yang diberikan kepada peserta didik harus sesuai dengan kemampuan mereka, menekankan pentingnya nilai-nilai dalam pembelajaran, dan dapat diterapkan dalam berbagai konteks.

    “Nilai harus terintegrasi dalam semua mata pelajaran, karena nilai merupakan inti dari proses pembelajaran. Oleh karena itu, selain aspek pengetahuan dan keterampilan, deep learning juga harus menekankan pentingnya nilai,” kata Mu’ti, seperti yang tercantum dalam keterangan tertulis pada Jumat (14/2/2025).

    Mu’ti menjelaskan bahwa setiap individu memiliki cara belajar yang unik. Oleh karena itu, dalam metode deep learning terdapat tiga prinsip utama, yaitu mindful, meaningful, dan joyful.

    Prinsip pertama, “mindful,” mengacu pada proses belajar yang dilakukan dengan kesadaran penuh. Dalam konteks kelas, seorang guru perlu menghormati semua murid dan memberikan kesempatan bagi mereka untuk menemukan cara yang paling efektif dalam mempelajari materi.

    Prinsip kedua adalah “meaningful,” yang berarti proses menemukan makna dan manfaat dari ilmu yang diajarkan serta mengembangkannya lebih lanjut.

    Ketiga, istilah “joyful” merujuk pada penghargaan terhadap pencapaian dalam menemukan makna serta segala kegunaan dan manfaatnya bagi masyarakat. (Red-033)