Loreng yang Menginspirasi: Prajurit TNI Menjadi Guru Sehari, Anak-Anak Papua Belajar dengan Ceria

    0
    124

    PAPUA, Cakrayudha-hankam.com – Di tengah hutan lebat Papua, terdapat sebuah sekolah sederhana bernama SD Rimba ST Aloysius Mumugu, di mana harapan bersinar lebih cerah. Pada Sabtu, 21 September 2025, suasana di sekolah ini terasa istimewa. Bukan karena kehadiran pejabat atau perayaan tertentu, melainkan karena kehadiran sosok-sosok istimewa—prajurit Satgas Yonif 733/Masariku yang datang bukan dengan senjata, tetapi dengan buku dan senyuman.

    Mereka bukan sekadar tentara, tetapi juga guru sementara yang mengajarkan lebih dari sekadar pelajaran akademis. Hari itu, anak-anak Papua belajar tentang nilai-nilai kebangsaan, cinta tanah air, dan pentingnya persatuan dalam keberagaman. Dengan semangat yang membara, mereka menyimak setiap kata yang disampaikan, sambil sesekali tertawa lepas saat para prajurit menyelipkan humor dalam materi pelajaran.

    Dari Hati ke Hati: Mengajar dengan Kasih Sayang
    Selain mengajar, para prajurit juga menjalin kedekatan emosional dengan anak-anak. Mereka duduk bersama, mendengarkan cerita, dan berpartisipasi dalam permainan, menciptakan suasana belajar yang lebih hangat dan menyenangkan.

    “Kami ingin anak-anak Papua merasakan bahwa mereka tidak sendirian. Kami ada untuk mendukung mereka dan mewujudkan impian-impian mereka,” ungkap salah satu prajurit dengan mata yang bersinar penuh semangat.

    Di sisi lain, Kepala SD Mumugu, Ibu Sinta, menyampaikan rasa harunya. “Anak-anak sangat antusias. Kehadiran para Bapak TNI memberikan mereka semangat baru. Ini adalah pengalaman yang akan selalu mereka ingat,” ujarnya sambil tersenyum.

    TNI, Teman dan Pendidik untuk Generasi Papua
    Pangkoops Habema Mayjen TNI Lucky Avianto menekankan bahwa kegiatan ini bukan sekadar seremonial, melainkan wujud nyata kepedulian TNI terhadap masa depan anak-anak Papua.

    “Mereka adalah generasi penerus bangsa yang berhak mendapatkan pendidikan terbaik. Kehadiran prajurit TNI di sekolah-sekolah terpencil menunjukkan bahwa TNI tidak hanya berfungsi sebagai penjaga keamanan, tetapi juga sebagai sahabat dan sumber inspirasi bagi masyarakat,” ungkapnya.

    Di daerah terpencil, di tengah berbagai keterbatasan, harapan tetap tumbuh. Seragam loreng TNI yang biasanya diasosiasikan dengan ketegasan, pada hari itu menjadi simbol kasih sayang dan pengabdian. Di SD Mumugu, anak-anak tidak hanya belajar membaca dan berhitung, tetapi juga diajak untuk bermimpi lebih besar demi masa depan yang lebih cerah.

    Authentication:
    (Dansatgas Media HABEMA, Letkol Inf Iwan Dwi Prihartono/Red-033)