1000 Tahun Lalu Manusia Bangun Tembok Pelindung dari El Nino, Panjangnya 10 Kilometer

    0
    105

    Chimu,(Cakrayudha-hankam.com) – Arkeolog menemukan dinding batu berbentuk trapezoid sepanjang 10 kilometer dari abad ke-13 Masehi di Peru bagian utara yang dipercaya dibangun oleh bangsa Chimu untuk melindungi ibu kotanya dari fenomena El Nino.

    Bangsa Chimu sudah ada sejak 850-900 M. Bangsa ini bermukim di area seluas 1.000 kilometer dari pesisir Piura di utara menuju Paramonga di selatan.

    Kerajaan dari bangsa ini berpusat di Chan Chan, sebuah kota yang terbentuk dari batu bata di ujung Lembah Moche.

    Pada masa kejayaannya di abad ke-15 Masehi, kota Chan Chan diprediksi memiliki populasi lebih dari 40.000 hingga 60.000 penduduk.

    Bangsa Chimu dipercaya membangun dinding dari batu berbentuk trapezoid Muralla La Cumbre pada abad ke-13 Masehi. Dengan panjang 10 kilometer, dinding ini membentang dari Cerro Cabras hingga Cerro Campana.

    Pemicu Revolusi Prancis
    Selain diduga dibangun sebagai bentuk marka batas kota, teori lain menyatakan dinding ini dibangun melindungi Chan Chan dari invasi Bangsa Inca dan sebagai monumen seremonial.

    Gabriel Prieto Burmester, direktur dari Proyek Arkeologis Huanchaco, menyatakan sebenarnya dinding ini digunakan untuk melindungi Chan Chan dari fenomena iklim El Nino.

    El Nino dipercaya telah mengakibatkan berbagai macam kerusakan, mulai dari kehancuran beberapa budaya Peru. Di Eropa, El Nino menyebabkan gagal panen, yang berujung kepada Revolusi Prancis.

    Para peneliti berhasil menemukan sedimen sedalam dua meter dengan beberapa 12 celah untuk pasir dan lumpur yang hanya terletak di satu sisi dinding.

    Dari 12 celah yang ditemukan peneliti ini dipercaya terkait dengan 12 tipe fenomena iklim yang berbeda.

    Analisis radiokarbon dari salah satu lapisan sedimen tersebut mengungkap sedimen tersebut sudah ada sejak 1400-1450 M.

    Periode 1400-1450 M adalah sebuah periode yang pada saat itu terjadi bersamaan pengorbanan 250 anak dan 40 prajurit di Chan Chan.

    Ahli menduga pengorbanan manusia ini merupakan bentuk sajian kepada Tuhan untuk permintaan perlindungan dari marabahaya fenomena iklim yang terkait dengan El Nino.(Red)