
MAKASSAR, Cakrayudha-hankam.com – Medio Desember 2024 atau menjelang akhir tahun 2024, publik dihebohkan dengan terbongkarnya sindikat pembuatan dan pengedaran uang palsu. Yang menghebohkan lagi, pembuatan uang palsu itu dilakukan di dalam di lingkungan Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin, Kota Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel). Tentu saja, kasus tersebut mencoreng dunia pendidikan di Tanah Air.
Kepolisian Daerah (Polda) Sulsel menyebutkan, Kepala Perpustakaan UIN Alauddin Makassar, berinisial AI, memiliki peran sentral dalam operasi sindikat uang palsu itu. AI disebut menyediakan ‘tempat aman’ untuk memproduksi uang, surat berharga negara (SBN) hingga sertifikat deposit BI yang nilainya mencapai ratusan triliunan rupiah.
“Perannya berbeda-beda, tapi peran sentralnya di AI dan juga saudara MS. Kemudian ada ASS, tapi saya sengaja tidak sebutkan [sebagai tersangka] karena belum memiliki kekuatan hukum yang tetap,” kata Kapolda Sulsel, Irjen Pol Yudhiawan Wibisono dalam konferensi pers di Polres Gowa, Kamis (19/12/2024).
ASS yang bekerja sebagai pengusaha, disebut sempat ingin maju dalam Pilkada Sulsel 2024 lalu. Walaupun disebut memiliki peran penting, status ASS masih belum jelas, baik jadi tersangka maupun daftar pencarian orang (DPO).
Kapolres Gowa AKBP Rheonald T Simanjuntak menceritakan, awalnya sindikat ini memproduksi uang palsu di tempat MS di Jalan Sunu, Makassar. Namun, percetakan uang palsu itu menggunakan mesin berukuran kecil. Lalu mereka membeli alat cetak yang lebih besar seharga Rp600 juta di Surabaya, yang dibuat dari China. Alat cetak itu kemudian dimasukkan ke dalam perpustakaan kampus.
“Alat itu dimasukkan salah satu tersangka, inisial AI, itu ke dalam salah satu kampus di Gowa, yaitu menggunakan salah satu gedung, yaitu perpustakaan dan itu di malam hari,” ujar Rheonald.
Kasus pembuatan dan peredaran uang palsu di UIN Alauddin Makassar, ternyata tak sesederhana yang dibayangkan. Berdasarkan pengungkapan oleh pihak kepolisian, sindikat ini telah direncanakan sejak belasan tahun lalu. Selain itu, juga melibatkan berbagai pihak dari akademisi hingga politikus.
Pengungkapan kasus ini, merupakan hasil penulusuran kepolisian dari beberapa tersangka yang sudah ditangkap sejak awal Desember 2024.
Kapolda Sulsel Irjen Yudhiawan Wibisono mengungkapkan, para tersangka yang terlibat ada 17 orang dengan latar pekerjaan yang berbeda-beda. Sebagaimana disampaikan dalam konferensi pers di Polres Gowa, Sulawesi Selatan, Kamis (19/12/2024), inisial dari 17 tersangka tersebut masing-masing AI, MN, KMR, IRF, SAR, JBP, ST, SKM, AK, IL, SM, MSD, STR, SW, MGB, AA, dan RHM. Selain itu, masih ada tiga orang yang masuk dalam daftar pencairan orang (DPO).
Para tersangka yaitu dua pegawai Bank BUMN, satu pejabat sekaligus dosen UIN Alauddin Makassar, empat aparat sipil negara (ASN), satu honorer, pengusaha, hingga juru masak. Ada pula tersangka yang pernah ingin mencalonkan diri sebagai Wali Kota Makassar dan ikut Pilkada Kabupaten Barru, serta calon anggota legislatif pada Pemilu 2024 lalu.
Irjen Yudhiawan juga mengungkapkan, modus operandi jaringan produksi uang palsu berawal dari proses pembuatan di rumah pelaku yang kini masuk daftar pencarian orang atau DPO inisial ASS di Makassar pada 2010 silam. Sejauh ini, ASS diduga sebagai donatur pabrik uang palsu tersebut. Proses pembuatan uang palsu itu berjalan hingga 2012.
“Timeline pembuatan dan peredaran uang palsu ini dimulai dari Juni 2010, udah lama ini. Kemudian lanjut 2011 sampai dengan 2012,” kata Irjen Yudhiawan, seraya menjelaskan, produksi uang palsu itu sempat terhenti. Para pelaku sibuk mempersiapkan perencanaannya dengan matang hingga kembali bergerak memproduksi pada 2022.
Dari hasil pengungkapan tersebut, pihak kepolisian berhasil menyita sejumlah barang bukti pembuatan uang palsu di Gedung Perpustakaan UIN Alauddin Makassar, Gowa, yakni satu uni mesin cetak besar GM-247IIMP-25 offset printing machine, 738 lembar kertas bergambar uang pecahan Rp100 ribu emisi 2016 belum dipotong. 397 lembar kertas bergambar uang pecahan Rp100 emisi 2016 belum terpotong.
Selanjutnya, mata uang rupiah Rp100 ribu emisi 2016 sebanyak delapan lembar total Rp800 ribu sudah terpotong. 199 lembar kertas gagal produksi karena rusak. Sebanyak 460 lembar kertas gagal produksi karena kosong. Sebanyak 957 lembar kertas bergambar uang pecahan Rp100 ribu gagal produksi.
Sebanyak 6.139 lembar kertas bergambar uang pecahan Rp100 ribu yang gagal produksi. Mata uang rupiah Rp100 ribu emisi 2016 sebanyak 19 lembar senilai Rp1,9 juta gagal produksi serta peralatan pendukung produksi pencetakan uang palsu tersebut.
Total barang bukti yang dirilis di Polres Gowa yakni mata uang rupiah pecahan Rp100 ribu emisi 2016 sebanyak 4.554 lembar. Mata uang rupiah Rp100 ribu emisi 1999 sebanyak enam lembar. Sebanyak 234 lembar kertas bergambar uang pecahan Rp100 ribu emisi 2016 yang belum dipotong.
Mata uang Korea sebanyak satu lembar senilai 5.000 Won. Mata uang Vietnam sebanyak 111 lembar senilai 500 Dong. Mata uang rupiah sebanyak dua lembar dengan pecahan 1.000 emisi 1964. Mata uang rupiah Rp100 ribu emisi 2016 sebanyak 234 lembar.
Satu lembar kertas foto copy certificate of time Deposit (BI) senilai Rp45 triliun. Satu lembar kertas Surat Berharga Negara (SBN) senilai Rp700 triliun. Satu bungkus bubuk aluminium, satu kaleng tinta masing-masing warna putih, merah dipesan dari Cina. Kaleng tinta warna hitam. 13 tinta printer, timbangan digital dan sembilan lembar plat khusus serta peralatan pendukung lainnya, sembilan ponsel, satu sepeda motor dan dua mobil telah disita petugas.
Kapolda Sulsel Irjen Yudhiawan Wibisono menerangkan, polisi menduga peredaran uang palsu ini merupakan sindikat internasional. “Ini masih diproses untuk disidik lebih lanjut. Untuk (bahan) uang kertasnya, bahan baku tinta dan lain sebagainya juga impor, dibeli dari China,” ucap Yudhiawan saat merilis pengungkapan uang palsu, di Mapolres Gowa, Sulawesi Selatan, Kamis (19/12/2024) seperti dilansir dari Antara.
Ia menuturkan, untuk memperoleh bahan baku dalam pembuatan mata uang palsu pecahan Rp100 ribu tersebut, pelaku SAR membelinya dari pria berinisial RZ yakni kertas konstruk dan tinta. Sedangkan bahan baku lainnya dibeli dari jaringannya melalui daring yang diduga kuat berasal dari China
Sementara itu, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UIN Alauddin menduga ada keterlibatan pihak lain di kampus dan mendesak rektor untuk mengundurkan diri.
Namun, Rektor UIN Alauddin, Hamdan Juhannis enggan mengomentari hal tersebut itu. “Kedua oknum yang terlibat dari kampus kami, langsung kami berhentikan dengan tidak hormat,” kata Hamdan Juhannis dengan singkat.
Di lain tempat, Direktur Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira mengatakan, pihak yang paling dirugikan oleh uang palsu adalah pengusaha kecil dan menengah. “Begitu dia dapat uang palsu, dan menyetorkan uang itu ke bank kan ditolak. Berarti kerugian langsung yang didalami mereka (pedagang kecil),” kata Bhima.
Kasus kampus menjadi pablik upang palsu di Makassar viral di media sosial. Adapun kampus yang menjadi aksi sindikat itu, berada di Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Kota Makassar, Sulawesi Selatan.
Rektor UIN Alauddin Makassar, Hamdan Juhannis, akhirnya buka suara. Ia ngamuk bukan kepalang atas kasus uang palsu (upal) diproduksi di kampus yang ia pimpin.
“Saya marah, saya malu, saya tertampar,” kata Hamdan Juhannis, menanggapi kejahatan pembuatan dan peredaran upal yang terkuak dari dalam kampus baru-baru ini, dikutip dari kompas.tv.
Hamdan Juhannis tak habis pikir, reputasi kampus yang sudah dibangun dengan jerih payah bersama pimpinan dan timnya, kini tercoreng oleh praktek kejahatan upal.
“Setengah mati kami membangun kampus, membangun reputasi bersama pimpinan, dengan sekejap dihancurkan,” tutur Hamdan saat konferensi pers di Kabupaten Gowa, Kamis (19/12/2024).
Hamdan menyatakan dengan tegas tentang penonaktifan kepala perpustakaan dan staf yang terlibat dengan kasus upal tersebut. (Red-050)
Sumber: berbagai sumber
