Nasib Guru Honorer yang Curhat Terima Gaji Rp 250 Ribu per Bulan,Berujung Minta Maaf usai Viral

    0
    188

    Nusa Tenggara Timur,(Cakrayudha-hankam.com) – Sebuah video memperlihatkan sejumlah guru honorer dari Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 6 Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT), curhat terkait gaji yang diterima setiap bulan, viral di media sosial.

    Awalnya, seorang guru berseragam biru bertanya kepada rekannya terkait gaji yang mereka terima.

    Seorang guru bernama Yani mengaku mendapat gaji Rp 250.000 per bulan.

    Video itu lantas viral dan menyita perhatian banyak pihak.

    Dipanggil Pihak Sekolah
    Pihak SMK Negeri 6 Ende, NTT, guru yang ada di video tersebut.

    Kepala SMK Negeri 6 Ende, Arsyad mengatakan, empat guru dalam video telah menyampaikan permintaan maaf.
    Para guru tersebut tidak pernah meyangka video itu akan viral di berbagai media sosial.

    “Mereka menyampaikan permohonan maaf kepada pimpinan atas video yang viral itu,” kata Arsyad saat dihubungi, Selasa (6/8/2024).

    Arsyad mengatakan aktivitas kegiatan belajar mengajar (KBM) di sekolahnya berjalan normal. Beberapa guru yang sempat viral masih beraktivitas seperti biasa.

    Dia juga menjelaskan, pemberian upah di sekolahnya berdasarkan kesepakatan bersama.

    Tidak ada paksaan dari salah satu pihak.
    “Mereka juga selama ini menikmati meski upah yang mereka dapat besarannya seperti itu,” ujar dia.

    Terkait informasi bahwa keempat guru itu dilaporkan ke Pemprov NTT atas dugaan pelanggaran etika, Arsyad mengaku tidak mengetahuinya.

    “Saya sempat membaca di medsos terkait pernyataan Pak Penjabat Bupati Ende. Silakan dikonfirmasi ke beliau,” pungkasnya.

    Dapat Apresiasi
    Sementara Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Kadisdikbud) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Ambrosius Kodo buka suara soal video sejumlah guru SMK Negeri 6 Endeyang viral di media sosial.

    Di dalam video tersebut, para guru mengaku digaji sebesar Rp 250.000 per bulan.

    Terkait hal itu, Ambrosius pun mengapresiasi para guru honorer yang tetap mengabdi di sekolah tersebut meski mendapat gaji yang kecil.

    “Saya apresiasi dan terima kasih kepada para guru yang masih mau mengajar dengan gaji yang begitu kecil. Apalagi jarak antara sekolah dengan ibu kota Kabupaten Ende sekitar 60 kilometer,” kata Ambrosius, kepada sejumlah wartawan di Kupang, Selasa (6/8/2024).

    Pemerintah Provinsi NTT, lanjut dia, tidak tinggal diam terkait keluhan para guru honorer soal gaji yang tak layak.

    Dia mengatakan, pemerintah terus mengalokasikan anggaran untuk mendukung guru-guru honor berupa tambahan penghasilan Rp 400.000 setiap bulan.

    “Ini sudah tahun ke enam.”

    “Tambahan penghasilan per bulan Rp 400.000 diberikan kepada guru honor yang upahnya di bawah UMR provinsi NTT.”

    Sekarang teman-teman masih melakukan verifikasi dan validasi untuk proses pembayaran tambahan penghasilan,” ungkap dia.

    Selain itu, pemerintah juga membuka ruang dan kesempatan bagi guru-guru honorer untuk mengikuti tes formasi guru Aparatur Sipil Negara (ASN) Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK).

    Dia memerinci, pada tahun 2021 pemerintah membuka 8.000 lebih formasi guru PPPK tapi yang lulus 3.000 lebih. Kemudian, pada tahun 2023 ada tambahan 1.443 guru ASN PPPK.

    Selanjutnya, pada tahun 2024 Penjabat Gubernur NTT sudah mengajukan tambahan ke Pemerintah Pusat sebanyak 5.300 formasi ASN PPPK.

    “Karena itu saya mengajak teman teman honorer untuk mempersiapkan diri dengan baik. Belajar, agar nanti lulus menjadi guru ASN PPPK, sehingga penghasilannya lebih baik,” ujar dia.

    Ambrosius juga mengingatkan para kepala sekolah SMA dan SMK di NTT, yang mempekerjakan guru-guru honorer supaya memberi perhatian agar mereka bisa lolos seleksi PPPK.

    Lebih lanjut, Ambrosius mengingatkan agar para guru menggunakan media sosial untuk mengembangkan dan meningkatkan kompetensinya.

    “Begitu juga kalau ingin menyampaikan sesuatu di media sosial, sampaikan potensimu. Tidak usah menyampaikan tentang orang lain atau lembaga lain,” ujar Ambrosius.

    Meski begitu, Ambrosius mengaku tidak marah dengan unggahan guru SMK Negeri 6 Ende. Pasalnya, hal itu memang kondisi sesungguhnya yang dialami guru honorer di sekolah tersebut.

    “Sekali lagi saya mengimbau kepada teman teman guru, agar jika menggunakan media sosial, dengan kembangkan potensi supaya mengajar lebih baik.”

    “Dengan cara itulah kita mengabdi kepada bangsa ini. Untuk menjadikan sekolah-sekolah kita menjadi sekolah yang berkualitas untuk nanti menyongsong NTT cerdas dan berbudaya,” tegasnya emnagkhiri perbincangan bersama awak media.(Red)