Selama 2024, Terjadi 21 Kasus Rudapaksa Terhadap Anak di Bogor

    0
    151
    KPAID Kota Bogor merilis kasus kekerasan terhadap anak di wilayah kerjanya. [Foto: poskota.co.id]

    BOGOR, (Cakrayudha-hankam.com) – Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor mencatat, sedikitnya ada 21 kasus rudapaksa terhadap anak sepanjang tahun 2024.

    Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah Perlindungan Perempuan dan Anak (UPTD PPA) Kota Bogor, Dina Noviana, menyebutkan selama 2024 pihaknya menangani 35 kasus kekerasan terhadap anak.

    Menurut Dina, dari 35 kasus tersebut, 21 diantaranya merupakan kasus rudapaksa.

    “Enam bulan belum tutup, tapi sudah setengahnya dari jumlah kasus tahun lalu. Mudah-mudahan tidak lagi bertambah, tapi kita tidak bisa memprediksi,” ucap Dina, Minggu (9/6/2024).

    Dikatakan Dina, bertambahnya kasus kekerasan terhadap anak ini selaras dengan kesadaran masyarakat untuk melaporkan hal-hal yang terjadi di lingkungan.

    “Sekarang, kesadaran masyarakat meningkat, sehingga masyarakat berani melaporkan. Itu impact dari kegiatan pencegahan dan sosialisasi, bahwa kalau ada kasus agar dilapor segera,” ujarnya.

    Menurutnya, kasus kekerasan anak diibaratkan seperti fenomena gunung es. Kasus yang terlihat tampak sedikit, tapi yang tidak terlihat sebenarnya lebih banyak.

    “Ada yang damai, tenggelam, selesai di lapangan. Tapi ada dampak psikologis yang panjang terhadap anak, yang membuat masalah bagi anak yang tidak direhabilitasi ketika nanti dia dewasa,” kata Dina.

    Sementara itu, Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah (KPAID) Kota Bogor, Dede Siti Amanah menyebutkan, dalam kurun waktu 5 bulan terakhir, pihaknya telah menangani 12 kasus kekerasan seksual terhadap anak.

    Dibandingkan pada 2023 selama setahun atau 12 bulan, jumlah kasus kekerasan seksual anak yang ditangani KPAID ada 12 kasus.

    “Kalau kita bandingkan 2023 selama 12 bulan dan 2024 selama lima bulan, angkanya sama persis 12 kasus. Meningkat atau tidak, ini belum ada setengah tahun,” kata Dede.

    Menurutnya, jumlah kasus yang muncul dan dilaporkan ke KPAID merupakan angka yang fantastis. Ia pun menyayangkan kondisi ini.

    “Jadi, dalam setengah tahun, itu angka yang fantastis, kami pun sangat menyayangkan. Bulan Mei bulan panennya pengaduan di 2024,” pungkasnya. (**)

     

    Sumber: poskota.co.id