KULIAH UMUM: “Bela Negara dan Waspada Proxy War Dalam Menjaga Keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia”

    0
    125

    Kendari,(Cakrayudha-hankam.com) – Cakra Yudha Hankam sangat mengaprsiasi kegiatan KULIAH UMUM yang diselenggarakan oleh BEM TEKNIK Universitas Halu Oleo dengan menghadirkan pemateri dari KOREM 143/HO dan DPD KNPI SULTRA.

    Fatahillah dari Cakra Yudha Hankam

    “Bahwa kegiatan-kegiatan seperti ini sangatlah penting di era sekarang ini, seiring perkembangan llmu pengetahuan dan teknologi, sifat dan karakteristik perang telah bergeser, dimana saat ini kemungkinan terjadinya perang konvensional antar dua negara semakin kecil,” ujar Fatahillah dari Cakra Yudha Hankam.

    “Perang masa kini yang terjadi dan perlu diwaspadai oleh Indonesia salah satunya adalah Perang Proxy (Proxy War). Proxy War tidak melalui kekuatan militer, tetapi perang melalui berbagai aspek kehidupan berbangsa dan bernegara. Baik melalui politik, ekonomi, sosial dan budaya termasuk bidang lainnya. Hal inilah yang akan dihadapi oleh Bangsa Indonesia ke depan,” jelas Fatahillah.

    “Peperangan masa depan adalah salah satu corak perang dalam spektrum konflik yang telah kita kenal, perang ini merupakan satu cara perang yang relatif baru yang akan selalu dikembangkan,” tandas Komandan Devisi I Cakra Yudha Hankam.

    “Peperangan masa depan ini bersifat total dimana segala cara dan sarana dibenarkan untuk mencapai tujuan, segala cara dan sarana dapat saja dilakukan tanpa mengindahkan moral dan berkembangnya kebencian,” ulasnya.

    “Yang jelas peperangan masa depan ini tidak mempunyai pola yang sama, tidak mempunyai front dan tidak kaku seperti perang konvensional, perang konvensional mengandalkan kecanggihan mesin dan teknologi perang yang cenderung membutuhkan biaya tidak sedikit, maka kemudian lahir konsep perang baru yang mengandalkan taktik dan strategi perang yang dikenal dengan perang Proxy,” pungkasnya.

    “Perang Proxy atau Proxy War adalah sebuah konfrontasi antar dua kekuatan besar dengan menggunakan pemain pengganti untuk menghindari konfrontasi secara langsung dengan alasan mengurangi risiko konflik langsung yang berisiko pada kehancuran fatal,” jelas Kasrem 143/HO Kolonel Inf Singgih Pambubi Arinto, S.I.P., M.Han.

    “Peperangan masa depan secara umum menggunakan strategi perang non konvensional dan menjadikannya sebagai upaya yang efektif dalam mencapai tujuannya, melihat kenyataan ini maka sudah semestinya pemahaman terhadap seluk beluk peperangan masa depan perlu diketahui secara mendalam,” jelas Kasrem 143/HO kepada mahasiswa peserta kuliah umum.

    “Apabila hal ini tidak kita lakukan atau dengan kata lain kita selalu hanya berpikir tentang perang konvensional saja, maka kita akan dapat dikalahkan oleh lawan yang menggunakan strategi peperangan masa depan (Proxy War),” ujar Kasrem 143/HO.

    Oleh karenanya perlu pengembangan paradigma berfikir global peserta Diklat Kader Bela Negara di tengah ancaman berupa modus perang baru (Proxy War) dalam menangkal segala bentuk ancaman, gangguan maupun hambatan yang merongrong keutuhan Bangsa dan Negara.

    Kuliah umum yang diselenggarakan Rabu, (15/11/23) oleh Universitas Halu Oleo (UHO) dengan tema “Bela negara dan Waspada Proxy War Dalam Menjaga Keutuhan Negara Kesatuan epublik Indonesia” dimaksudkan untuk memberikan gambaran dan pengetahuan tentang peperangan masa depan dan perkembangannya sebagai pembekalan dalam kegiatan Diklat Bela Negara.

    Biasanya maksud dan diadakan kegiatan seperti ini tidak lain untuk memberikan gambaran tentang Proxy War dan menghadapi peperangan masa depan dengan strategi dan cara menghadapi menghadapi peperangan masa depan (Proxy War).

    Untuk pemaparan materi keduanya lebih ditujukan kepada PENGUATAN IDIOLOGI PANCASILA yang dibawakan oleh Kasrem 143/HO Kolonel Inf Singgih Pambubi Arinto, S.I.P., M.Han.

    Turut hadir dalam kuliah tamu tersebut Ketua DPD KNPI Sultra Hendrawan dan Kolonel Inf Singgih Pambubi Arinto, S.I.P., M.Han, La Ode Mu, Ali Sabilah Ketua BEM FT UHO serta mahasiswa Univrsitas UHO.

    Salah satu strategi agar mengantisipasi hal proxy war yakni dengan penguatan pemahaman tehadap idiologi Pancasila.

    Kolonel Inf Singgih Pambubi Arinto, S.I.P., M.Han. menambahkan, “sedangkan tujuan tidak lain pula agar para masyarakat dan mahasiswa memahami Proxy War dan dapat melakukan pencegahan serta penanggulangannya dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan masyarakat sekitar dan lingkungan tempat ia bekerja.”

    Lanjut Ketua DPD KNPI Sultra, “bahwa Solusi terbaik untuk mengantisipasi perang proxy war adalah dengan Penguatan Idiologi Pancasila yang harus ditanamkan dalam jiwa. Sebab hanya inilah pilihan terbaik dalam mengantisipasi hal tersebut.(Red)