Jemaah Haji Diingatkan, Langgar Larangan Ihram Saat Tiba di Jeddah Wajib Bayar Dam

    0
    76

    Jeddah Arab Saudi,(Cakrayudha-hankam.com) – Lokasi miqat, atau batas tempat berniat untuk umrah bagi jemaah haji Indonesia gelombang kedua berada di wilayah udara Yalamlam. Jika jemaah sudah berniat saat di pesawat, kemudian melanggar larangan ihram, maka mereka dikenakan denda membayar dam.

    Kedatangan jemaah haji ke Bandara King Abdul Aziz, Jeddah, Arab Saudi, banyak diwarnai dengan sejumlah jemaah yang melanggar larangan ihram.

    Misalnya, banyak jemaah haji laki-laki yang memakai pakaian berjahit begitu tiba di bandara.

    Ada juga yang sudah mengenakan ihram tapi masih memakai jaket atau baju batik, bahkan celana.

    Padahal sebagian jemaah mengaku sudah niat ihram di atas pesawat saat melintasi wilayah Yalamlam.

    Terkait hal ini, Kepala Seksi Bimbingan Ibadah (Kasi Bimbad) PPIH Arab Saudi Daker Bandara, Khoirun Na’im menyatakan bahwa jemaah yang sudah benar-benar niat ihram di atas pesawat tapi masih memakai pakaian berjahit, dikenakan denda membayar dam.

    “Kalau dia di atas pesawat sudah niat umrah, jelas niat bukan ikut-ikutan, tentu kena dam. Sudah jelas itu melanggar larangan ihram,” ujarnya di Bandara King Abdul Aziz, Jeddah pekan lalu.

    Khoirun menjelaskan, jemaah haji Indonesia yang masuk Makkah melalui Jeddah memiliki dua opsi miqat makani (batas tempat dimulainya ihram umrah), yakni saat pesawat melintas wilayah Yalamlam, dan di Bandara Jeddah. Nantinya mereka akan langsung melakukan ibadah umrah haji atau umrah wajib setibanya di Tanah Suci.

    “Tapi kan jemaah kita ini enggak semua ngerti agama, banyak yang ikut-ikut (niat). Jadi husnuzonnya karena itu kebanyakan lansia, ngakunya udah niat di atas tapi dia masih pakai peci, jaket, kaos kaki,” ujarnya.

    Saat ditanya kenapa masih pakai jaket dan kaos kaki, jemaah mengaku kedinginan di pesawat. “Artinya beliau ini tidak ngerti, enggak paham,” ucap Khoirun.

    Di sinilah, fungsi petugas haji dari layanan bimbingan ibadah untuk menyempurnakan niat para jemaah. Mereka dibimbing untuk mengulangi lagi niat ihramnya, dan diingatkan untuk tidak memakai pakaian berjahit.

    Khoirun berharap, para petugas kloter, termasuk pembimbing ibadah di Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) agar mengajak seluruh jemaahnya mengenakan pakaian ihram sejak dari embarkasi di Tanah Air. Hal ini untuk memudahkan persiapan ibadah umrah para jemaah.

    Saat tiba di Jeddah, jemaah bisa langsung melaksanakan salat sunat dua rakaat kemudian berniat tanpa harus repot dan terburu-buru untuk mandi terlebih dulu.

    “Lebih mudah, lebih praktis, tidak perlu mandi lagi dan sebagainya,” pungkas Khoirun.(Red)