Surabaya, Cakrayudha-hankam.com — Sebuah video yang diunggah akun Instagram @viralforjustice menuai kritik publik setelah narasinya dinilai mengandung unsur SARA dan menyudutkan masyarakat Madura. Konten tersebut dianggap berpotensi memicu kesalahpahaman serta merusak harmoni sosial antarwarga di Kota Surabaya.
Video itu memantik kegelisahan sebagian masyarakat karena dinilai membangun persepsi negatif terhadap etnis Madura, seolah keberadaan warga Madura menjadi ancaman bagi kelompok lain. Narasi semacam itu dinilai berbahaya karena dapat memperlebar jarak antar komunitas yang selama ini hidup berdampingan di Surabaya.
Menanggapi hal tersebut, Ketua Umum MADAS Sedarah, Bung Taufik, menyampaikan kecaman keras dan menilai konten tersebut sebagai bentuk komunikasi publik yang tidak bertanggung jawab, Rabu (26/11/2025).
“Kami mengutuk keras konten akun @viralforjustice yang menyudutkan orang-orang Madura. Ini bukan sekadar provokasi, tetapi dapat memicu prasangka dan permusuhan antar-etnis. Surabaya bukan milik satu golongan, dan kami tidak akan tinggal diam ketika masyarakat Madura diperlakukan seolah-olah sebagai pihak yang harus dicurigai,” tegas Bung Taufik.
Sebagai aktivis, akademisi, sekaligus tokoh hukum, Bung Taufik menilai konten itu berpotensi menimbulkan gesekan sosial apabila tidak segera ditindaklanjuti.
“Di era keterbukaan informasi, penyebaran konten yang mengandung provokasi seperti ini sangat berbahaya. Masyarakat Surabaya sudah dewasa dalam bermasyarakat, namun konten bernuansa adu domba dapat menjadi pemicu konflik horizontal,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa MADAS Sedarah dalam waktu dekat akan menyiapkan langkah hukum, termasuk pelaporan resmi kepada aparat penegak hukum agar dilakukan kajian dan penyelidikan terhadap motif serta dampak yang ditimbulkan dari unggahan tersebut.
“Kami meminta aparat penegak hukum segera menindaklanjuti. Ruang digital tidak boleh menjadi tempat penyebaran kebencian terhadap kelompok mana pun, termasuk terhadap masyarakat Madura,” tambahnya.
Bung Taufik menekankan bahwa Surabaya dibangun oleh berbagai etnis Madura, Jawa, Arab, Tionghoa, dan kelompok lainnya yang berkontribusi dalam sejarah dan perkembangan kota. Karena itu, upaya menggiring opini bahwa Surabaya hanya milik satu etnis tertentu harus ditolak bersama.
Ia juga mengajak para aktivis, akademisi, dan elemen masyarakat untuk memperkuat literasi digital dan menjaga ruang publik dari konten provokatif yang dapat mengancam kohesi sosial.
“Mari bersama menjaga ruang digital agar tetap sehat. Jangan biarkan ada pihak yang memanfaatkan isu identitas untuk kepentingan tertentu. MADAS Sedarah akan terus berada di garda depan menjaga martabat masyarakat Madura sekaligus memperkuat harmoni sosial di Surabaya,” pungkasnya.(red-SYO)

