10 November 1945: Surabaya Banjir Darah, Neraka Bagi Sekutu

0
587

SURABAYA, Cakrayudha-hankam.com – Tanggal 10 November 1945 menjadi salah satu hari paling bersejarah dalam perjalanan bangsa Indonesia. Hari itu, Surabaya berubah menjadi lautan api dan darah — sebuah pertempuran dahsyat yang kemudian dikenang sebagai Hari Pahlawan.

Pertempuran ini meletus setelah Gubernur Jawa Timur, Raden Soerjo, menolak ultimatum pasukan Sekutu pada malam 9 November 1945. Ultimatum yang disampaikan oleh Komandan Tentara Sekutu Jenderal E.C. Mansergh itu menuntut rakyat Surabaya menyerahkan senjata dan tunduk pada kekuasaan Sekutu. Penolakan itu diartikan rakyat sebagai tanda dimulainya perang mempertahankan kemerdekaan.

Serangan Sekutu dari Laut, Darat, dan Udara

Sabtu pagi, 10 November 1945, pasukan Inggris yang baru memenangkan Perang Dunia II menggempur Surabaya dari segala penjuru. Meriam kapal perang mereka di Tanjung Perak menyalak tanpa henti, sementara tank dan pasukan Gurkha bergerak dari pelabuhan menuju pusat kota.

Dari udara, pesawat-pesawat tempur mengebom kawasan pertahanan pejuang Indonesia. Kota Surabaya pun luluh lantak. Namun semangat juang arek-arek Suroboyo tak padam. Berbekal “Sumpah Kebulatan Tekad” yang diikrarkan malam sebelumnya, mereka bertahan di setiap sektor kota — Barat, Tengah, Timur, dan Selatan — di bawah koordinasi Kolonel Soengkono, Komandan Pertahanan Surabaya.

Perlawanan Tak Kenal Menyerah

Di berbagai titik pertempuran seperti Sawahpulo, Pegirian, dan sekitar pabrik rokok Dji Sam Soe, pasukan Pemuda Republik Indonesia (PRI-AL dan PRI Utara), Hisbullah, dan laskar rakyat menghadang konvoi Inggris dengan senjata seadanya.

Pertempuran berlangsung tidak seimbang. Destroyer Inggris seperti Cavalier dan Carron menembakkan ratusan peluru meriam kaliber besar ke jantung kota. Namun pejuang muda Surabaya — banyak di antaranya masih pelajar SMP, SMA, bahkan mahasiswa — terus melawan.

Suara Bung Tomo yang berapi-api melalui Radio Surabaya membakar semangat rakyat. Warga keluar rumah membawa bambu runcing, clurit, pedang, dan bahkan keris. Mereka menyerbu pasukan Inggris tanpa takut mati. Tubuh-tubuh bergelimpangan di jalanan; Surabaya benar-benar menjadi “banjir darah”.

Kota Neraka bagi Sekutu

Menurut catatan sejarah, tentara Inggris menyebut pertempuran di Surabaya sebagai “inferno” — neraka bagi pasukan Sekutu. Di Imperial War Museum London, masih tersimpan foto-foto dokumentasi pertempuran tersebut: anak-anak belasan tahun yang tertangkap setelah melawan dengan granat, rumah-rumah terbakar, dan prajurit Inggris yang berlindung dari serangan pejuang Indonesia.

Meski kalah dalam persenjataan, semangat juang rakyat Surabaya membuat Sekutu kewalahan. Ribuan nyawa melayang; diperkirakan lebih dari 16.000 pejuang gugur dalam pertempuran yang berlangsung hingga akhir November 1945.

Peran Tenaga Medis dan Kaum Perempuan

Ribuan korban luka dirawat di berbagai rumah sakit, termasuk RSU Simpang — kini lokasi WTC dan Plaza Surabaya. Dokter Sutopo yang memimpin perawatan korban sampai meminta bantuan ke Jakarta. Tim medis di bawah pimpinan dr. Aziz Saleh datang untuk memperkuat layanan di Surabaya, sementara sebagian pasien dipindahkan ke rumah sakit di Sidoarjo, Mojokerto, Jombang, dan Malang.

Peran kaum perempuan juga tercatat penting. Sekitar 60 anggota Pemuda Puteri Republik Indonesia (PPRI) di bawah pimpinan Lukitaningsih ikut terjun ke medan laga, menjadi petugas medis dan palang merah di tengah hujan peluru.

Lahirnya Taman Makam Pahlawan Kusuma Bangsa

Melihat banyaknya korban gugur, Wali Kota Surabaya saat itu, Radjamin Nasution, menggagas pendirian Taman Makam Pahlawan (TMP). Lapangan di Jalan Canna (kini Jalan Kusuma Bangsa) ditetapkan sebagai tempat pemakaman para pejuang. Sebanyak 26 jenazah pertama dari RSU Simpang dimakamkan di sana. Sejak itu, TMP Kusuma Bangsa menjadi simbol penghormatan atas pengorbanan arek-arek Suroboyo.

Surabaya: Dari Neraka Menjadi Kota Pahlawan

Pertempuran besar yang berlangsung selama 20 hari itu menjadi catatan dunia. Media asing menulis kekaguman terhadap keberanian rakyat Indonesia. Sejak tewasnya Brigadir Jenderal A.W.S. Mallaby hingga perang darat, laut, dan udara, Surabaya menjadi simbol perlawanan rakyat terhadap kolonialisme.

Bagi Inggris, Surabaya adalah kota neraka.
Namun bagi bangsa Indonesia, Surabaya adalah kawah candradimuka — tempat lahirnya semangat dan jiwa kepahlawanan.

Dari peristiwa inilah, pemerintah menetapkan 10 November sebagai Hari Pahlawan Nasional, dan Surabaya selamanya dikenang sebagai Kota Pahlawan.

Penulis:
Yousri Nur Raja Agam, MH – Pemerhati sejarah dan wartawan senior di Surabaya.