Aksi Damai Warga Mapia Raya

    0
    44

    Tolak OPM, Dukung Papua yang Damai dan Sejahtera

     

    PAPUA, Cakrayudha-hankam.com – Pada Sabtu (5/7/2025), masyarakat Kabupaten Mapia Raya, Papua, menggelar aksi damai yang besar-besaran sebagai bentuk penolakan terhadap keberadaan dan aktivitas kelompok bersenjata Organisasi Papua Merdeka (OPM). Aksi ini mencerminkan tekad warga untuk mencapai kedamaian dan kemajuan tanpa gangguan dari kelompok separatis yang telah menimbulkan teror di daerah tersebut.

    Ribuan warga, termasuk tokoh adat, tokoh agama, pemuda, ibu-ibu, pelajar, dan aparat kampung, berunjuk rasa dengan membawa spanduk yang menyampaikan penolakan terhadap OPM. Beberapa pesan yang tertera di spanduk antara lain “Papua Cinta Damai, Bukan Kekerasan”, “OPM Bukan Wakil Kami”, dan “Mapia Raya Aman Tanpa OPM”. Aksi ini dimulai di halaman kantor distrik dan berakhir di halaman kantor bupati Dogiyai, dengan pengawalan ketat dari Polres Dogiyai dan Kodim setempat.

    Fredi Pigai, selaku Ketua Korlap aksi, menegaskan dalam orasinya bahwa kehadiran OPM di wilayah ini hanya membawa kekerasan dan ketakutan. “Kami sudah cukup menderita akibat berbagai aksi kekerasan yang mereka lakukan. Mereka datang bukan untuk memberikan solusi, melainkan membawa senjata dan perpecahan. Kami menolak OPM karena kami mencintai kedamaian,” ujar Fredi, yang disambut tepuk tangan meriah dari warga yang hadir.

    Aksi ini merupakan respons terhadap serangkaian gangguan keamanan yang terjadi di wilayah Mapia Raya dalam beberapa bulan terakhir. Insiden-insiden tersebut meliputi pembakaran fasilitas umum, intimidasi terhadap tenaga pengajar dan kesehatan, serta penyebaran hoaks yang meresahkan masyarakat.
    Pendeta Yulius Dogopia, tokoh agama dari Gereja Kingmi di Mapia, menegaskan bahwa kekerasan bukanlah jalan yang benar dalam memperjuangkan hak. “Ajaran iman kami mengedepankan kasih, bukan kebencian. OPM telah menjauhkan banyak warga dari ajaran damai. Mereka menodai nilai-nilai luhur orang Papua, ” tegas Pendeta Yulius.
    Ernesto Ferdinand, salah seorang warga setempat, mengungkapkan kekhawatirannya terhadap situasi yang semakin tidak aman. “Kami minta jaminan bahwa anak-anak kami bisa sekolah tanpa takut, petani bisa berkebun tanpa khawatir ditembak, dan warga bisa beribadah tanpa diintimidasi, ” ungkapnya, menyuarakan rasa ketidaknyamanan yang dirasakan warga akibat ancaman dari kelompok separatis tersebut.

    Aksi damai ini menunjukkan dengan jelas bahwa masyarakat Papua, terutama di Kabupaten Mapia Raya, semakin menyadari pentingnya menjaga kedamaian dan kemajuan tanpa melibatkan kekerasan. Warga Mapia Raya bersatu untuk menolak teror dan memperjuangkan hak mereka untuk hidup dalam keamanan, kedamaian, dan kesejahteraan. Dengan semangat yang kuat, mereka kini mengungkapkan harapan untuk Papua yang damai dan bebas dari kekerasan yang menghalangi pembangunan daerah. (Red-033)