Sejumlah Jemaah Haji RI Tak Dapat Tenda, Ketua PPIH Minta Maaf

    0
    65

    MEKKAH, Cakrayudha-hankam.com – Ketua petugas haji Indonesia telah menyampaikan permohonan maaf terkait masalah yang dihadapi oleh jemaah haji yang tidak mendapatkan tenda saat wukuf di Arafah.

    “Atas nama Ketua PPIH (Petugas Penyelenggara Ibadah Haji) Arab Saudi, saya ingin meminta maaf atas ketidaknyamanan yang dialami oleh sebagian jemaah haji Indonesia,” ungkap Muchlis M. Hanafi, Ketua PPIH Arab Saudi, seperti yang dilansir dari situs Kementerian Agama (Kemenag) pada Minggu (8/6/2025).

    Wukuf di Arafah merupakan puncak dari ibadah haji, yang dijadwalkan berlangsung pada 9 Zulhijah 1446 Hijriah, bertepatan dengan 5 Juni 2025. Jemaah haji Indonesia diberangkatkan dari hotel di Makkah menuju Arafah pada 4 Juni, namun beberapa di antara mereka tidak mendapatkan tenda di Arafah.

    Hal ini disebabkan oleh adanya tenda yang seharusnya masih memiliki slot kosong, tetapi tidak dapat diisi oleh jemaah yang datang karena berbagai alasan.

    “Contohnya, tenda yang dapat menampung 350 orang sebenarnya hanya dihuni oleh 325 jemaah dari satu kelompok. Namun, tenda tersebut tidak dapat diakses oleh jemaah lain, meskipun mereka berasal dari markaz yang sama,” jelas Muchlis.

    Kedua, skema pemberangkatan jemaah yang berbasis hotel menyulitkan penataan dan penempatan jemaah. Penempatan jemaah di hotel Makkah seharusnya mengikuti markaz dan syarikah. Namun, dalam praktiknya, banyak jemaah yang memilih untuk berpindah hotel meskipun berbeda markaz dan syarikah, dengan berbagai alasan, tidak selalu karena penggabungan pasangan.

    Karena sistem keberangkatan dari Makkah ke Arafah menggunakan pendekatan berbasis hotel, bukan berdasarkan markaz atau syarikah, beberapa tenda terisi penuh lebih cepat, bahkan sebelum jemaah yang dijadwalkan untuk menempati tenda tersebut tiba di lokasi, seperti yang diungkapkan oleh Mukhlis.

    Ketiga, jumlah petugas tidak sebanding dengan jumlah jemaah. PPIH Arab Saudi telah membagi tugas layanan ke dalam tiga daerah kerja (daker).

    Dengan jumlah petugas yang terbatas, mereka harus bekerja keras untuk melayani lebih dari 203 ribu jemaah yang tersebar di 60 markaz di Arafah. Hal ini menyulitkan petugas markaz dalam mengatur penempatan jemaah secara disiplin. Banyak di antara mereka yang mengalami kelelahan, ungkapnya.

    Keempat, mobilitas jemaah yang tidak teratur. Mukhlis menjelaskan bahwa banyak jemaah yang berpindah tenda secara mandiri untuk berkumpul dengan kerabat atau kelompok bimbingan dari daerah asal mereka. “Perpindahan ini mengganggu distribusi beban tenda dan menyulitkan pengendalian layanan secara keseluruhan,” ujarnya.

    Untuk mengatasi masalah ini, Mukhlis menyatakan bahwa pihaknya akan mengambil beberapa langkah mitigasi. Langkah pertama adalah melakukan pemetaan ulang terhadap kapasitas tenda yang masih kosong. Langkah kedua adalah mengalihkan tenda petugas untuk digunakan oleh jemaah. Langkah ketiga, mereka akan bernegosiasi dengan pihak syarikah untuk menyiapkan tambahan tenda. Terakhir, mereka akan memanfaatkan tenda utama Misi Haji Indonesia untuk menampung jemaah yang tidak mendapatkan tenda. (Red-033)