Tujuh Jahitan di Tengah Kabut

    0
    91

    Ketika Prajurit Menyulam Harapan di Pedalaman Papua

     

    PAPUA, Cakrayudha-hankam.com – Di sebuah sudut terpencil pegunungan Papua, saat kabut menyelimuti langit Kampung Geligi, harapan hampir sirna. Namun, pada Kamis, 5 Juni 2025, seberkas cahaya kemanusiaan kembali bersinar berkat tangan-tangan bersarung putih seorang prajurit TNI.

    Serda Lijan, seorang prajurit kesehatan dari Pos Pintu Jawa, Satgas Yonif 700/Wira Yudha Cakti, pada hari itu menjadi penyelamat bagi seorang pemuda bernama Yotam. Luka parah di kaki Yotam akibat sabetan parang tidak hanya menyakitkan secara fisik, tetapi juga mencerminkan luka sosial di kampung yang ditinggalkan oleh tenaga medis karena ancaman dari kelompok TPNPB. Puskesmas Mageabume kini sepi, tidak lagi menjadi tempat perlindungan bagi masyarakat.

    Namun, harapan masih ada dan belum sepenuhnya hilang.

    Di pos penjagaan TNI, yang seharusnya menjadi lambang kekuatan militer, justru kehidupan kembali pulih. Tanpa ragu, Serda Lijan mengambil alih tugas sebagai tenaga medis yang tidak hadir. Dengan fasilitas yang terbatas dan di bawah cahaya alami yang redup, ia menjahit luka Yotam dengan penuh ketelitian dan kasih sayang.

    Tujuh jahitan menghiasi kaki Yotam, namun lebih dari itu, sebuah keyakinan mulai tumbuh. Bahwa prajurit bukan sekadar penjaga batas, melainkan juga penjaga nurani. Di balik seragam loreng mereka, terdapat rasa peduli dan cinta terhadap kemanusiaan.

    “Kehadiran prajurit TNI di Papua tidak hanya untuk menjaga kedaulatan, tetapi juga untuk melindungi rakyat, menjadi penyambung harapan, dan memberikan kehidupan,” tegas Mayjen TNI Lucky Avianto, Pangkoops Habema.

    Apa yang dilakukan Serda Lijan pada hari itu bukanlah tindakan biasa. Itu adalah aksi heroik yang muncul dari empati dan tekad untuk hadir di saat-saat sulit ketika tidak ada orang lain. Sebuah pengabdian yang melampaui batas tugas dan jabatan.

    Kisah Yotam bukan sekadar tentang luka yang dijahit, melainkan tentang kemanusiaan yang terjalin di tengah konflik, tentang ketulusan yang muncul di saat-saat genting, dan tentang TNI sebagai penjaga hati, bukan hanya sebagai penjaga wilayah.

    Satgas Yonif 700/WYC membuktikan bahwa kehadiran prajurit di daerah terpencil Papua merupakan wujud nyata dari semboyan: TNI adalah kita. Mereka tidak hanya bertugas menjaga perbatasan, tetapi juga merawat harapan masyarakat.

    Autentikasi:
    (Letkol Inf Iwan Dwi Prihartono, Dansatgas Media HABEMA/Red-033)