MAKKAH, Cakrayudha-hankam.com – Jumlah jamaah yang menuju Masjidil Haram semakin meningkat setiap harinya. Hal ini sejalan dengan kedatangan jamaah dari berbagai negara yang datang ke Makkah menjelang puncak ibadah haji.
Cuaca di Makkah pada siang hingga sore hari sangat panas, dengan suhu mencapai 42 hingga 43 derajat Celsius. Namun, kondisi ini tidak menghalangi para jamaah untuk melaksanakan ibadah dengan khusyuk.
Kepadatan kota Makkah, terutama menjelang waktu shalat, membuat jamaah haji wanita yang sudah lanjut usia harus berjuang keras untuk mencapai Masjidil Haram. Situasi ini menyoroti pentingnya persiapan fisik dan keberanian bagi para jamaah, karena perjalanan menuju Masjidil Haram, terutama menjelang puncak ibadah haji seperti wukuf di Arafah, memerlukan usaha yang besar.
Kepadatan lalu lintas di jalan raya Makkah juga menjadi tantangan, sehingga jamaah Indonesia yang menggunakan bus mengalami kendala dalam perjalanan.
“Bus yang mengantar kami ke Harom tidak dapat mencapai terminal karena kepadatan lalu lintas, jadi kami turun di depan Masjid Jin,” kata Fitriah, salah satu jamaah kloter 10 JKG di Makkah, kepada Indonesiasatu.co.id pada Selasa sore, 27 Mei 2025.
Setelah turun dari bus, suasana sudah sangat padat. Kami beberapa kali terjebak dalam kerumunan, terutama oleh jamaah dari luar negeri seperti Turki dan sekelompok orang tinggi berkulit hitam yang jumlahnya mencapai ratusan; mereka tampak tidak memperhatikan sekelilingnya,” ungkapnya.
Jamaah haji asal Kebon Nanas, Jakarta Timur ini menceritakan bahwa mereka berangkat ke Masjidil Haram setelah waktu Maghrib setempat dan melaksanakan sholat Isya berjamaah di Masjid Asisyah (Tan’im).
“Ketika tiba saatnya untuk tawaf, saya sempat merasa ragu melihat kerumunan yang begitu padat. Namun, karena sudah bertekad, kami akhirnya berhasil menyelesaikannya,” katanya.
“Ketika waktu sa’i tiba, situasinya benar-benar sulit karena kerumunan yang sangat sesak. Akhirnya, ustadz kami memutuskan untuk melakukan tawaf di lantai 2, sejajar dengan jamaah yang menggunakan kursi roda. Kami kembali ke maktab sekitar pukul 2.28 dini hari waktu setempat,” tambahnya.
Sementara itu, Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) di Arab Saudi sedang berusaha untuk menyatukan pasangan yang terpisah dalam beberapa hari mendatang, agar mereka dapat melaksanakan puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna).
Direktur Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU) Kementerian Agama RI, Hilman Latief, menyatakan bahwa pihaknya akan berusaha untuk menempatkan jemaah dalam satu tenda, meskipun terpisah dari tenda lainnya, asalkan berada dalam maktab yang sama atau tidak berjauhan.
“Contohnya, suami istri dapat digabungkan kembali, tetapi di tenda yang berbeda, karena tenda untuk perempuan dan laki-laki dipisahkan. Ini mirip dengan pengaturan di hotel,” jelasnya saat meninjau lokasi tenda di Mina, Makkah, pada Selasa (27/5/2025).
Hilman juga menambahkan bahwa Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi sedang berkoordinasi dengan berbagai sektor jemaah haji di Makkah mengenai usulan penggabungan pasangan yang terpisah antar syarikah.
“Langkah ini diambil untuk memudahkan mereka dalam melaksanakan ibadah Armuzna,” tutupnya. (Red-033)

