Rencana Penutupan Demi Perluasan Bandara

    0
    61

    Dapat Protes Warga Kampung Bengkirai

     

    SAMPIT, Cakrayudha-hankam.com – Rencana penutupan jalan yang menghubungkan Kampung Bengkirai dengan pusat Kota Sampit mendapat penolakan dari warga setempat. Mereka mengungkapkan keberatan karena penutupan ini akan berdampak signifikan pada aktivitas sehari-hari masyarakat, terutama bagi anak-anak sekolah dan warga yang kurang mampu.

    Anjas, salah satu warga Bengkirai, menegaskan bahwa jalan yang akan ditutup bukanlah milik bandara, melainkan telah lama menjadi jalur utama bagi warga untuk menuju kota. Ia menjelaskan bahwa jalan tersebut sudah ada sebelum Bandara Haji Asan Sampit dibangun.

    “Kami semua warga Bengkirai menolak penutupan ini. Jalan itu bukan milik bandara, melainkan jalan milik warga. Jalan ini sudah ada sebelum bandara berdiri,” ujarnya pada Sabtu (24/5/2025).

    Ia menambahkan bahwa jika jalan tersebut ditutup, warga akan terpaksa menggunakan jalur alternatif yang lebih jauh, melewati Jalan Tjilik Riwut.

    Selain itu, jika bandara mengalami peningkatan, Jalan Tjilik Riwut akan dialihkan ke arah Lingkar Selatan dan berakhir di Jalan Semekto. Namun, kondisi jalan alternatif yang disiapkan saat ini dianggap belum memadai dan berpotensi membahayakan.

    “Jalan yang disediakan pemerintah saat ini dalam keadaan rusak, tidak dapat dilalui oleh mobil, dan bahkan anak-anak sekolah pun akan mengalami kesulitan. Jalannya masih berupa tanah, berisiko karena melewati hutan, tidak ada penerangan, dan jaraknya cukup jauh. Sebagian besar warga di sini juga belum memiliki kendaraan pribadi,” ungkap Anjas.

    Dia menambahkan bahwa selama ini tidak ada komunikasi dari pemerintah mengenai rencana penutupan jalan tersebut. Warga, menurutnya, justru mengetahui informasi ini melalui media.

    “Selama ini, kami tidak mendapatkan informasi dari pemerintah. Kami mengetahui rencana ini dari media dan teman-teman di kota yang bertanya kepada kami. Kami sangat terkejut dan merasa cemas. Seharusnya, sebelum ada rencana seperti ini, warga diajak berdiskusi terlebih dahulu,” tegasnya.

    Menanggapi kekhawatiran warga, Lurah Baamang Hulu, Rudi Setiawan, segera menemui mereka untuk memberikan penjelasan. Ia menegaskan bahwa penutupan jalan tidak akan dilakukan secara permanen dan tidak akan terjadi dalam waktu dekat. Pemerintah daerah berkomitmen untuk tetap memprioritaskan akses bagi warga.

    “Saya bersyukur dapat bertemu langsung dengan warga dan mendengarkan apa yang mereka rasakan. Saya ingin menegaskan bahwa penutupan jalan ini tidak bersifat permanen. Pemerintah berencana membangun jalan alternatif agar mobilitas warga tetap terjaga,” ujar Rudi.

    Ia menjelaskan bahwa penutupan jalan tersebut merupakan bagian dari rencana pengembangan Bandara Haji Asan Sampit, namun pelaksanaannya masih menunggu hasil kajian yang menyeluruh.

    “Penutupan ini tidak dilakukan secara tiba-tiba. Pemerintah masih melakukan kajian terhadap dampaknya. Meskipun pengembangan bandara sangat penting, kebutuhan warga tetap menjadi prioritas utama. Kami tidak hanya memikirkan bandara, tetapi juga kesejahteraan masyarakat di sekitarnya,” tambahnya.

    Dalam pertemuan itu, warga menyampaikan harapan agar jalan alternatif yang sedang dibangun dapat lebih dekat dan layak digunakan. Mereka mengusulkan agar akses baru dibangun di ujung Sungai Mentaya, yang juga memiliki potensi untuk pengembangan wisata.

    Warga menyarankan agar di lokasi tersebut dibangun jembatan atau jalan yang baik, yang tidak hanya mendukung aksesibilitas bagi masyarakat, tetapi juga dapat menarik minat wisatawan. Semoga pemerintah daerah dapat mengelola proyek ini dengan sebaik-baiknya, harap mereka. (Red-033)