Respons Pemprov NTT setelah Video Pungutan Liar di Ratenggaro Viral

    0
    133

    NTT, Cakrayudha-hankam.com – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) memberikan tanggapan terhadap insiden yang tidak menyenangkan yang dialami oleh wisatawan dan YouTuber Jajago Keliling Indonesia di Desa Adat Ratenggaro, Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD), pada hari Minggu, 12 Mei 2025. Video mengenai insiden tersebut diunggah ke media sosial beberapa hari kemudian dan menjadi viral.

    Gubernur Nusa Tenggara Timur, Melkiades Laka Lena, menganggap peristiwa ini merusak citra pariwisata di provinsi kepulauan tersebut. Ia berharap kejadian serupa tidak akan terulang di NTT.

    “Kami berharap ini menjadi yang terakhir kalinya, karena hal ini merusak reputasi pariwisata di NTT, terutama di Sumba,” ungkapnya, seperti dilansir oleh Antara pada Selasa, 20 Mei 2025.

    Dia meminta Kepala Dinas Pariwisata NTT, Noldi Pellokila, untuk berkoordinasi dengan Dinas Pariwisata Sumba Barat Daya (SBD) serta dinas pariwisata di kabupaten lain yang memiliki potensi serupa dengan yang ada di Ratenggaro. Menurutnya, pariwisata di desa wisata adat Ratenggaro merupakan wisata berbasis komunitas, sehingga musyawarah dan kesepakatan dengan masyarakat setempat mengenai pembagian hasil harus dilakukan dengan jelas. Selain itu, pengelolaan juga harus terstruktur dengan baik, dan perlu diidentifikasi permasalahan yang mungkin muncul, seperti yang terjadi di SBD, ujarnya.

    Menjaga Kenyamanan Wisatawan
    Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif NTT, Noldi Pellokila, menyatakan bahwa pemerintah provinsi meminta setiap kepala daerah di Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD) untuk memastikan keamanan dan kenyamanan wisatawan saat mereka mengunjungi lokasi-lokasi wisata.

    Mengenai insiden di Ratenggaro, ia mengungkapkan bahwa ia telah menyiapkan surat untuk dikirimkan kepada Bupati SBD. Noldi menyatakan bahwa kasus ini seharusnya menjadi pelajaran bagi setiap daerah yang memiliki desa dengan tingkat kunjungan wisatawan yang tinggi. Ia juga menambahkan bahwa di provinsi tersebut terdapat banyak desa wisata, namun belum ada penetapan status resmi sebagai desa wisata, sehingga pengelolaannya belum optimal.

    “Jika ada desa wisata, pasti ada kelompok sadar wisata (Pokdarwis) yang akan mengelolanya,” kata dia kepada Antara pada Selasa, 20 Mei 2025.

    Menurutnya, Pokdarwis berperan dalam mengatur berbagai aspek pariwisata, mulai dari pengelolaan parkir, pengaturan kawasan wisata, hingga memastikan kenyamanan dan keamanan bagi para wisatawan yang berkunjung.

    Ia juga menyatakan bahwa pihaknya akan segera memfasilitasi semua dinas pariwisata di kabupaten/kota di NTT untuk memberikan pelatihan dan menetapkan status desa wisata, serta membantu pembentukan kelompok sadar wisata. Langkah ini diambil sebagai upaya untuk mencegah terjadinya masalah, seperti pungutan liar yang tidak sesuai ketentuan.

    Pungutan Liar di Ratenggaro
    Sebuah video yang viral di media sosial mengungkapkan adanya pungutan liar yang dialami oleh pasangan Youtuber, John dan Riana, pemilik akun Jajago Keliling Indonesia, pada hari Minggu, 12 Mei 2025. Mereka melaporkan bahwa selama kunjungan mereka ke desa tersebut, mereka diminta membayar sejumlah uang yang tidak sesuai dengan ketentuan oleh anak-anak dan orang dewasa setempat.

    Dalam video tersebut, mereka melakukan berbagai aktivitas wisata, seperti berfoto, menunggang kuda, dan menerbangkan drone. Beberapa anak terlihat mengikuti mereka dan meminta bayaran yang menurut John tidak sesuai dengan kesepakatan awal.

    “Ketika membayar, mereka malah meminta lebih. Sewa kuda awalnya disepakati 50 ribu, tetapi ditagih 75 ribu. Jasa foto yang awalnya disepakati 10 ribu, diminta 25 ribu,” tulis mereka dalam keterangan video yang diunggah di Instagram.

    Dalam video lainnya, mereka juga menunjukkan pungutan yang dikenakan saat melewati sebuah jalan setelah meninggalkan desa wisata menuju Tambaloka, ibu kota SBD.

    “Untungnya, yang diminta hanya uang. Namun, bukan soal jumlahnya, melainkan tindakan mereka yang menghentikan kendaraan, ditambah dengan beberapa anak yang tampaknya diajari untuk melakukan hal serupa. Sungguh menyedihkan,” demikian keterangan dalam video yang diunggah pada Minggu, 18 Mei 2025.

    John, yang dihubungi pada hari Minggu lalu, mengonfirmasi peristiwa tersebut. Ia berharap video ini dapat menjadi bahan evaluasi untuk meningkatkan pariwisata di NTT, khususnya di Sumba. Menurutnya, NTT sangat indah dan penduduknya ramah. “Selama lima bulan saya berkeliling NTT, daerah ini aman. Hanya Ratenggaro yang terasa berbeda,” ujarnya.

    Desa Adat Ratenggaro menarik perhatian wisatawan karena menggabungkan keindahan alam dengan budaya yang unik. Terletak di tepi pantai, desa ini memiliki keistimewaan berupa kuburan batu yang berusia ribuan tahun serta rumah adat di mana masyarakat masih menjalankan tradisi dalam kehidupan sehari-hari. (Red-033)