Gereja dari Peluh dan Cinta

    0
    97

    Ketika TNI dan Warga Maybrat Bangun Rumah Tuhan Menjelang Paskah

     

    PAPUA, Cakrayudha-hankam.com – Di tengah ketenangan dan keindahan alam Kampung Faankario, Maybrat, semangat gotong royong bergema dengan jelas. Para prajurit TNI dari Satgas Yonif 501/BY bersama masyarakat setempat menciptakan kisah inspiratif: membangun rumah Tuhan dengan usaha dan ketulusan hati mereka sendiri pada Senin, 21 April 2025.

    Menjelang Paskah, tidak ada hadiah yang lebih berharga bagi masyarakat Aifat Timur selain berdirinya sebuah gereja baru. Gereja ini bukan hanya sekadar tempat ibadah, tetapi juga menjadi simbol cinta, persaudaraan, dan harapan yang terus menyala.

    Dari Loreng ke Lumpur: TNI Menjadi Saudara Sekampung
    Tanpa batasan dan tanpa perintah, para prajurit TNI bergabung dengan warga, mengangkat kayu, mencangkul tanah, dan menyusun batu demi batu untuk pondasi gereja. Seragam loreng mereka dipenuhi peluh, sementara tangan yang kasar merangkul semangat kebersamaan. Inilah sisi lain dari TNI, bukan hanya sebagai penjaga batas, tetapi juga sebagai penjaga harapan.

    Letkol Inf Yakhya Wisnu A., S.Sos., M.Han., Dansatgas Yonif 501/BY, menyampaikan pesan yang mendalam:

    “Kami hadir bukan hanya untuk menjalankan tugas, tetapi juga dengan sepenuh hati. Ini adalah wujud komitmen kami untuk membangun Papua, baik secara fisik maupun spiritual.”

    Menyambut Paskah dengan Gereja Cinta
    Warga Kampung Faankario menyambut kedatangan prajurit TNI layaknya keluarga sendiri. Dalam setiap tawa, keringat, dan doa yang terucap selama proses pembangunan gereja, tumbuh rasa persatuan yang tulus, menciptakan jembatan hati antara aparat dan masyarakat.

    Gereja ini ditargetkan selesai sebelum Paskah dan akan menjadi saksi bisu bagaimana keberagaman dapat melahirkan keindahan, serta bagaimana gotong royong menjadi bahasa universal yang menyatukan segala perbedaan.

    Pangkoops Habema, Mayjen TNI Lucky Avianto, memberikan apresiasi yang tinggi:
    “Inilah wujud sejati kemanunggalan antara TNI dan rakyat. Ini bukan sekadar bangunan, melainkan warisan spiritual yang dibangun dengan ketulusan.”

    Di ujung Papua, ketika gereja berdiri di atas tanah yang dulunya sepi, harapan baru pun muncul, dibangun dengan kerja keras para prajurit dan cinta masyarakat. Gereja ini bukan hanya terbuat dari semen dan bata, tetapi juga mengandung kehangatan, iman, dan impian akan Papua yang damai.

    Sumber:
    (Dansatgas Media HABEMA, Letkol Inf Iwan Dwi Prihartono/Red-033)