OPM Tak Wakili Rakyat Papua

    0
    88

    Suara Damai Menggema dari Tanah Cenderawasih

     

    JAYAPURA, Cakrayudha-hankam.com – Di tengah meningkatnya aksi kekerasan yang dilakukan oleh kelompok separatis bersenjata di Papua, suara dari berbagai elemen masyarakat justru menyampaikan satu pesan yang tegas: Organisasi Papua Merdeka (OPM) tidak mewakili aspirasi seluruh rakyat Papua. Ini disampaikan pada Sabtu, 19 April 2025.

    Sejumlah tokoh adat, akademisi, dan pemuka agama telah berbicara dan menegaskan bahwa mayoritas masyarakat Papua menginginkan perdamaian, pembangunan, dan masa depan yang lebih baik, bukan konflik yang berkepanjangan.

    Yonas Wenda, Ketua Lembaga Adat Papua, dengan tegas menyuarakan pandangan masyarakat adat.

    “Kami, masyarakat Papua, mencintai tanah ini dan menginginkan kehidupan yang damai. Gerakan OPM hanya menguntungkan segelintir orang, bukan kami semua,” ujarnya dalam konferensi pers di Jayapura pada Sabtu (19/4/2025).

    Pendapat serupa disampaikan oleh Dr. Markus Nara, seorang pengamat politik dan keamanan dari Universitas Cenderawasih. Ia berpendapat bahwa OPM sering kali menyalahgunakan semangat perjuangan kemerdekaan untuk kepentingan yang tidak sesuai.

    “Simbol perjuangan sering kali digunakan untuk tindakan destruktif, seperti pembakaran sekolah, penyanderaan guru, dan penghambatan pembangunan. Akibatnya, yang paling menderita adalah masyarakat Papua itu sendiri,” ujarnya dengan tegas.

    Sepanjang tahun 2024, tercatat lebih dari 70 aksi kekerasan yang diduga dilakukan oleh kelompok separatis, menurut data dari Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). Yang lebih menyedihkan, sebagian besar korban adalah warga sipil yang tidak bersalah, termasuk tenaga kesehatan dan guru yang sedang bertugas di daerah terpencil.

    Sebuah survei yang dilakukan oleh Litbang Kompas pada pertengahan 2024 menunjukkan bahwa lebih dari 65% warga Papua menginginkan fokus pada pembangunan ekonomi dan infrastruktur, bukan pada agenda politik kemerdekaan. Temuan ini menegaskan bahwa narasi perjuangan OPM tidak mencerminkan keinginan masyarakat Papua secara keseluruhan.

    Pendeta Albert Yoman, seorang tokoh gereja di Papua, juga menyuarakan pandangannya mengenai perlunya perubahan pendekatan. Ia menegaskan, “Kekerasan tidak pernah menjadi solusi. Papua memerlukan perhatian serius dalam bidang pendidikan, kesehatan, dan ekonomi, bukan terus-menerus dijadikan arena konflik bersenjata.”

    Papua Hari Ini: Antara Harapan dan Kekerasan
    Masyarakat Papua sebenarnya tidak tinggal diam. Mereka terus menyuarakan pendapat, meskipun dalam suasana ketakutan. Dari hutan dan pegunungan, hingga aula gereja dan kampus, satu pesan yang jelas terdengar: Papua menginginkan perdamaian. Papua ingin maju. Papua bukan OPM. (Red-033)