Maut di Tambang Emas Yahukimo

    0
    60

    11 Pekerja Sipil Dihabisi Brutal oleh Kelompok OPM

     

    YAHUKIMO, Cakrayudha-hankam.com – Papua dilanda duka yang mendalam. Sebanyak 11 pekerja tambang emas kehilangan nyawa secara tragis dalam serangan brutal yang diduga dilakukan oleh kelompok separatis bersenjata Organisasi Papua Merdeka (OPM) di daerah pegunungan Kabupaten Yahukimo, Papua, pada Rabu (9/4/2025).

    Insiden berdarah ini terjadi di lokasi penambangan yang terpencil, yang hanya dapat diakses melalui jalur darat dan udara dengan medan yang sangat sulit. Para korban, yang sebagian besar adalah pendatang dan warga lokal, tidak pernah membayangkan bahwa hari itu akan menjadi akhir hidup mereka yang tragis.

    Menurut laporan awal dari aparat keamanan, kelompok OPM melancarkan serangan ke area tambang sekitar pukul 08.30 WIT. Mereka datang dengan membawa senjata api dan senjata tajam, menyerang secara membabi buta. Para pekerja tidak memiliki waktu untuk melarikan diri. Suara tembakan memecah keheningan pegunungan, diikuti oleh jeritan korban yang tak berdaya.

    Kami hanya bisa melarikan diri dan bersembunyi di semak-semak. Teman-teman yang tertangkap langsung ditembak atau dibacok. Itu adalah pengalaman paling mengerikan dalam hidup saya, ungkap seorang pekerja yang selamat, masih dalam keadaan terguncang.

    Tim evakuasi gabungan dari kepolisian dan TNI menemukan jenazah korban dalam kondisi mengenaskan, tersebar di berbagai lokasi tambang. Beberapa di antaranya tewas akibat tembakan di kepala dan dada, sementara yang lainnya mengalami luka parah akibat sabetan senjata tajam.

    Aksi Teror yang Terorganisir
    Pihak kepolisian mengungkapkan bahwa serangan ini diduga merupakan bagian dari aksi teror terencana yang dilakukan oleh OPM, dengan tujuan mengguncang aktivitas ekonomi dan memutus rantai pasokan logistik ke wilayah-wilayah tertentu. Aktivitas pertambangan emas menjadi target utama karena dianggap sebagai simbol eksploitasi sumber daya alam Papua oleh pihak luar.

    Yang menjadi perhatian utama adalah kenyataan bahwa korban dari serangan ini adalah pekerja sipil biasa, bukan aparat atau elit, melainkan orang-orang yang mencari nafkah.

    Kecaman dan Seruan Keadilan
    Insiden ini segera mendapatkan kecaman dari berbagai pihak, termasuk tokoh adat, aktivis kemanusiaan, dan pemerintah daerah. Kekerasan terhadap warga sipil tidak dapat dibenarkan dengan alasan apa pun.

    Mereka bukanlah musuh; mereka hanya berusaha mencari nafkah. Kekerasan semacam ini justru menambah penderitaan di Papua,” kata salah satu tokoh masyarakat Yahukimo.

    Saat ini, aparat keamanan sedang mengejar pelaku dan memperketat pengamanan di daerah-daerah yang rawan. Pemerintah juga diminta untuk segera mengambil tindakan dan memastikan keamanan bagi seluruh warga sipil di Papua, termasuk mereka yang terlibat dalam kegiatan ekonomi yang sah.

    Papua Menangis, Indonesia Terpanggil
    Insiden di Yahukimo bukan hanya sekadar berita kekerasan biasa; ini adalah seruan mendesak bagi negara untuk lebih hadir dan berperan di Papua. Negara harus memastikan bahwa tidak ada seorang pun, terlepas dari suku, agama, atau profesi, yang menjadi korban dalam konflik yang berkepanjangan. (Red-033)