Simbol Persaudaraan di Tanah Papua
PAPUA, Cakrayudha-hankam.com – Cahaya persaudaraan bersinar terang di Kampung Sorry, Papua. Di tengah bulan suci Ramadhan yang penuh khidmat, prajurit Satgas Yonif 501/BY bersama warga setempat bekerja sama untuk membangun gereja impian yang telah lama dinantikan oleh masyarakat. Ini bukan sekadar proyek pembangunan, melainkan juga wujud nyata dari persatuan dan kasih di tanah Papua.
Di bawah terik matahari, dengan tangan yang dipenuhi semen dan keringat yang mengalir, para prajurit yang sedang menjalankan ibadah puasa tetap bersemangat mengangkat batu, memasang atap, dan memperkuat pondasi gereja. Doa mereka berpadu dengan kerja keras, menciptakan simbol kedamaian di tengah keberagaman.
Dansatgas Yonif 501/BY, Letkol Inf. Yakhya Wisnu A., tidak dapat menyembunyikan rasa harunya saat menyaksikan proses pembangunan ini.
“Ini lebih dari sekadar sebuah bangunan; ini adalah simbol bahwa perbedaan bukanlah penghalang, melainkan sebuah kekuatan. Bersama masyarakat, kami tidak hanya membangun gereja, tetapi juga memperkuat jembatan hati antara TNI dan rakyat Papua,” ujarnya dengan mata yang berkaca-kaca.
Semangat gotong royong ini semakin bermakna karena berlangsung di bulan suci Ramadhan. Meskipun sedang berpuasa, para prajurit tetap bekerja dengan penuh keikhlasan.
“Bulan Ramadhan adalah waktu untuk berbagi dan berbuat baik. Puasa tidak menghalangi kami untuk membantu saudara-saudara kami di Papua. Sebaliknya, ini menjadi bagian dari ibadah kami,” kata salah seorang prajurit sambil tersenyum.
Panglima Komando Operasi TNI Habema, Mayjen TNI Lucky Avianto, menegaskan bahwa kehadiran gereja ini lebih dari sekadar tempat ibadah.
“Setiap bata yang dipasang dan setiap tetes keringat yang tercurah mencerminkan semangat persaudaraan dan kebersamaan. Papua adalah rumah bagi semua, dan melalui kolaborasi ini, kita membangun harapan, kedamaian, dan persatuan yang semakin kuat,” ujarnya.
Di tanah Papua, di bawah langit biru dan dalam doa yang terus dipanjatkan, TNI dan masyarakat telah menciptakan kisah indah tentang persaudaraan. Sebuah gereja yang berdiri kokoh tidak hanya akan menjadi tempat ibadah, tetapi juga menjadi monumen kebersamaan yang akan dikenang oleh generasi mendatang.
Sumber:
(Dansatgas Media HABEMA, Letkol Inf Iwan Dwi Prihartono/Red-033)

