Demo Penolakan RUU TNI Ricuh di DPR: Pagar Jebol, Petasan, dan Mahasiswa Terluka

    0
    67

    JAKARTA, Cakrayudha-hankam.com – Sejumlah mahasiswa mengadakan aksi protes menolak pengesahan Revisi Undang-Undang (RUU) Tentara Nasional Indonesia (TNI) di depan Gedung DPR/MPR RI, Jakarta Pusat, pada Kamis (21/3/2025). Aksi ini dipicu oleh kekhawatiran akan kembalinya era Orde Baru setelah RUU TNI disetujui dalam rapat paripurna oleh DPR RI. Oleh karena itu, istilah “dwifungsi” kembali menjadi sorotan. Para demonstran menuntut agar TNI kembali ke barak dan tidak menduduki posisi sipil di Kabinet Merah Putih. Pagar Jebol Ketidakpuasan terhadap kurangnya respons dari perwakilan DPR maupun pemerintah membuat massa aksi berusaha merobohkan salah satu pagar gerbang depan kantor wakil rakyat tersebut pada malam hari.

    Dengan menggunakan tali tambang, mereka secara bersama-sama menarik barrier beton hingga tumbang, begitu juga dengan pagar setinggi lebih dari dua meter yang akhirnya roboh.

    Melalui pengeras suara di mobil komando, orator meminta para peserta aksi untuk memasuki area Gedung DPR/MPR RI dengan tertib. Setelah berhasil masuk, orator juga meminta para demonstran untuk saling bergandeng tangan dan duduk terlebih dahulu.

    “Satu ditangkap, semua ditangkap. Mohon tidak ada tindakan anarkis setelah berhasil masuk,” seru orator melalui pengeras suara di lokasi pada hari Kamis. Dengan teriakan “revolusi” dan diiringi lagu Gelap Gempita dari grup musik Sukatani, massa aksi mulai bergerak maju. Koordinator Bidang Sosial Politik Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UI, Muhammad Bagir Shadr, menceritakan bahwa aparat langsung memukul mundur para demonstran begitu mereka berhasil melewati pagar yang telah dijebol. “Baru saja kami mulai masuk, mereka langsung menyerang kami dengan pentungan dan pukulan,” ungkap Bagir.

    “Beberapa peserta aksi di bagian depan menjadi korban. Mereka dipukul dan mengalami luka, bahkan ada yang mengalami cedera parah hingga tidak sadarkan diri,” ujarnya. Salah satu peserta yang berada di barisan depan juga mengalami pemukulan oleh aparat, yang menyebabkan kacamatanya terjatuh dan hilang. Dalam situasi tersebut, mereka terpaksa mencari perlindungan. Aparat kemudian menggunakan water cannon untuk menyemprotkan air ke arah para demonstran.

    Keputusan untuk menggunakan water cannon itu justru direspon oleh para demonstran dengan melepaskan petasan ke arah polisi yang berada di dalam Gedung DPR RI. (Red-033)