Wamenaker Dikecam Karena Sarankan WNI untuk Kabur ke Luar Negeri

    0
    124

    JAKARTA, Cakrayudha-hankam.com – Jamiluddin Ritonga, pakar komunikasi politik dari Universitas Esa Unggul, mengkritik pernyataan Wakil Menteri Ketenagakerjaan (Wamenaker) Immanuel Ebenezer, atau yang akrab disapa Noel, terkait tagar #KaburAjaDulu. Ia menilai pernyataan tersebut sangat kurang empati.

    Noel menjadi sorotan publik setelah menyatakan bahwa warga negara Indonesia (WNI) yang ingin pergi ke luar negeri tidak perlu kembali ke tanah air.

    “Pernyataan Wamenaker Immanuel Ebenezer yang mengizinkan WNI untuk pergi ke luar negeri dan menyarankan agar tidak kembali sangat menunjukkan kurangnya empati,” ungkap Jamiluddin kepada Kompas.com pada Selasa (18/2/2025).

    Ia menambahkan bahwa melalui pernyataan tersebut, Noel tampak tidak berusaha untuk memahami atau merasakan apa yang dialami oleh WNI yang berencana berkarier di luar negeri. Sebaliknya, Noel justru terkesan acuh tak acuh dan tidak memiliki rasa keterikatan sosial dengan WNI yang ingin mengejar karier di luar negeri.

    “Immanuel tampak acuh tak acuh dalam berkomunikasi dengan WNI yang berencana berkarier di luar negeri. Hal ini tentu saja wajar jika memicu reaksi negatif dari sebagian masyarakat,” kata Jamiluddin.

    Jamiluddin menekankan bahwa Noel, sebagai Wakil Menteri Ketenagakerjaan, seharusnya lebih peduli terhadap setiap warga negara yang ingin bekerja di luar negeri.

    Terlebih lagi, Noel merupakan pejabat tinggi di Kemenaker yang saat ini belum mampu menyediakan lapangan kerja bagi banyak anak bangsa.

    “Oleh karena itu, Immanuel seharusnya memberikan solusi bagi WNI yang ingin berkarier di luar negeri,” tambah Jamiluddin.

    “Yang mengherankan, komunikasi Immanuel justru terkesan penuh prasangka. Akibatnya, pesan yang disampaikan menjadi negatif. Pernyataan yang menyarankan agar mereka tidak kembali juga mencerminkan nada komunikasi yang kurang baik,” ujarnya.

    Jamiluddin mengingatkan bahwa komunikasi politik yang efektif sangat penting untuk masyarakat.

    Jika komunikasi tersebut tidak memperhatikan empati terhadap publik, ia percaya bahwa hal itu akan memicu terjadinya miskomunikasi.

    “Kesalahpahaman dapat berujung pada kemarahan jika komunikasi dipenuhi dengan prasangka. Kedua hal ini tampaknya menyebabkan Immanuel menerima reaksi negatif dari masyarakat,” jelasnya.

    Sebelumnya, Noel menyatakan tidak ingin terlalu memikirkan tagar #KaburAjaDulu yang beredar di media sosial, yang mendorong WNI untuk bekerja di luar negeri.

    Ia justru mengizinkan WNI yang ingin berkarier di luar negeri untuk tidak perlu kembali ke Indonesia.

    “Kalau mau pergi, silakan saja. Jika perlu, jangan kembali lagi, hi-hi-hi,” kata Noel di Kantor Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT), Jakarta, pada Senin (17/2/2025), sambil tertawa.

    Noel enggan memberikan komentar lebih lanjut mengenai tren tersebut.

    Ia hanya menekankan bahwa Kementerian Ketenagakerjaan tidak memperhatikan tagar atau seruan tersebut.

    “Tagar-tagar itu tidak masalah, masa kita harus pedulikan tagar,” ujar Noel.

    Sementara itu, Menteri Ketenagakerjaan Yassierli menganggap bahwa kemunculan #KaburAjaDulu merupakan tantangan bagi pemerintah untuk menciptakan lapangan kerja yang lebih baik bagi warga negara Indonesia.

    “Ini adalah tantangan bagi kita jika itu berkaitan dengan aspirasi mereka. Mari pemerintah menciptakan pekerjaan yang lebih baik, ini menjadi perhatian dan catatan kami,” kata Yassierli di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, pada hari Senin.

    Ia juga mengakui bahwa peluang bagi warga negara Indonesia untuk bekerja di luar negeri memang ada. (Red-033)

    Editor: EH056