TNI AL Beri Materi Sejarah Keangkatan Lautan Kepada Calon Anggota Saka Bahari XX Bali

JEMBRANA, (Cakrayudha-hankam.com) – Guna menanamkan jiwa kebaharian kepada generasi muda, Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL) dalam hal ini Dinas Sejarah Angkatan Laut (Disjarahal) memberikan materi sejarah pertempuran lintas laut Jawa-Bali kepada calon anggota Saka Bahari angkatan ke-XX.

Sejarah pertempuran lintas laut itu disampaikan Kepala Sub Dinas Riset Sejarah (Kasubdis Risrah) Kolonel Laut (PM) Juang Pawana mewakili Kepala Dinas Sejarah Angkatan Laut  (Kadisjarahal) Laksamana Pertama TNI Dr. Hariyo Poernomo, bertempat di Monumen Operasi Lintas Laut Jawa-Bali, Kabupaten Jembrana, Bali, Sabtu (7/6/2024).

Menurut Kolonel Laut (PM) Juang Pawana, pemberiaan pembekalan tentang sejarah pertempuran lintas laut Jawa-Bali tersebut, merupakan pertempuran laut pertama yang terjadi di Indonesia.

“Pembekalan tentang sejarah pertempuran lintas laut tersebut, dalam rangka mendukung program kegiatan potensi maritim Pangkalan TNI AL (Lanal) Denpasar,” ujarnya.

Kolonel Laut (PM) Juang Pawana menjelaskan, sejarah Operasi Lintas Laut Jawa-Bali diawali dengan permintaan bantuan kekuatan pasukan dari Letkol I Gusti Ngurahrai di Sunda Kecil. Pada saat pengiriman pasukan tersebut, terjadilah pertempuran laut pada April 1946.

“Dua perahu melawan kapal Angkatan Laut Belanda jenis LCM (Landing Craft Mechanized) yang sedang patroli. Kapal-kapal patroli tersebut mendekat ke arah perahu yang ditumpangi Kapten Markadi dan meletus pertempuran laut.” terangnya.

Lebih lanjut, Kolonel Laut (PM) Juang Pawana mengatakan, kapal Belanda yang menyerang dengan mitraliur berat jenis browning kaliber 12,7 mm, kalah dengan lemparan granat dari pasukan kapten Markadi.

“Dalam kejadian tersebut, satu LCM meledak dan satu LCM lainnya melarikan diri dengan keadaan terbakar bagian dek, dan lambung kapal ke arah Gilimanuk. Kapten Markadi sebagai pemimpin dari Pasukan M berhasil menenggelamkan Kapal Belanda, meskipun dengan persenjataan yang terbatas,” terangnya.

Kolonel Laut (PM) Juang Pawana menambahkan, pertempuran yang berlangsung kira-kira 15 menit itu, kemudian dicatat dalam sejarah sebagai Perang Laut Pertama dalam Sejarah Republik Indonesia.

“Dari peristiwa itu, kemudian pemerintah membangun Monumen Operasi Lintas Laut Jawa-Bali pada 4 April 1988. Monumen ini dibangun dengan tugu yang berbentuk unik di antara hutan Bali Barat dan pesisir laut Gilimanuk,” katanya.

Perlu diketahui, pelaksanaan pembekalan ini selaras dengan program prioritas Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Dr. Muhammad Ali untuk memajukan Sumber Daya Manusia (SDM) generasi muda guna mewujudkan Indonesia Maju.

“Selain itu, dengan adanya pembinaan dan pengenalan kebaharian ini, diharapkan generasi muda menjadi kaya pengetahuan tentang laut Indonesia,” ucap Kasal. (Dispen AL)

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

0FansSuka
12PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan

Latest Articles