Kumkum dan Larung Sesaji Labuh Kali di Festival Kali Brantas Keramik Dinoyo ke-5

 

Malang, cakrayudha-hankam.com – Sungai Brantas adalah aliran sungai di provinsi Jawa Timur yang merupakan terpanjang kedua di Pulau Jawa, setelah Bengawan Solo. Sungai Brantas telah menjadi salah satu urat nadi sumber kehidupan masyarakat Jawa Timur yang setidaknya melintasi 14 Kota Kabupaten. Sungai Brantas bermata air di Desa Sumber Brantas, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, yang berasal dari simpanan air Gunung Arjuno, lalu mengalir ke Malang, Blitar, Tulungagung, Kediri, Jombang, Mojokerto.

Brantas mempunyai Daerah Aliran Sungai (DAS) seluas 11.800 km² atau ¼ dari luas Provinsi Jatim. Panjang sungai utama 320 km mengalir melingkari sebuah gunung berapi yang masih aktif yaitu Gunung Kelud. Sejak abad ke-8, di DAS Kali Brantas telah berdiri sebuah kerajaan dengan corak agraris, bernama Kanjuruhan. Kerajaan ini meninggalkan Candi Badut dan prasasti Dinoyo yang berangka tahun 760 M sebagai bukti keberadaannya.

Kali ini masyarakat Dinoyo berbodong-bondong melakukan ritual Larung Sesaji labuh Kali Brantas, gelaran pertama kali yang dilakukan di kota Malang untuk larung sesaji labuh kali. Melibatkan 40 penari yang membawa wadah terbuat dari keramik sebagaimana namanya yang terkenal dari Dinoyo sebagai kampung keramik yang diisi ikan-ikan yang merupakan endemik sungai Bratas dan akan dilepas ikan itu ke sungai Brantas pada hari Minggu ( 24 Juli 2022 ).

Para penari berjalan pawai dari pabrik keramik menuju Sungai Bratas sambil diiringi gamelan dari Kampung Satrio Turonggo Jati Celaket. Mereka menarikan gerakan Larung Sesaji Labuh Kali yang dikoreografi oleh Endra Zulaifah, pimpinan sanggar seni Denendar Malang. Iringan gamelan menambahkan suasana sangat khidmat dan penonton seakan larut dalam ke khidmatan tarian dan doa Larung Sesaji Labuh Kali.

Seiring dengan perjalanan dari atas lereng menuju ke bibir Sungai Bratas, mantra-mantra dan doa dibacakan oleh Ki Demang sebagai penggagas acara Festival Kali Bratas yang digelar di 7 Kampung Tematik di Kota Malang. Sesajen berupa cok bakal, kembang setaman, jenang sengkolo serta jenang palang sebagai pelengkap upacara larung sesaji labuh kali yang juga menjadi penanda dimulainya pra peringatan hari Sungai Nasional, yang biasa diperingati setiap tanggal 27 Juli.

“ Larung sesaji ini sebagai ungkapan membuang kesialan malapetaka dan bahaya yang setiap saat dialami oleh kita dan lingkungan kita. Dengan melepas ikan di sungai ke habitat yang sesungguhnya itu berati bahwa manusia secara sadar dan ikhlas harus mengembalikan sesuatu ke habitannya,” jelas pria yang bernama asli Isa Wahyudi ini yang juga Ketua Forkom Pokdarwis Kota Malang.

Acara juga diisi oleh Mbah Yongki Irawan Budayawan Kota Malang untuk memberikan penguatan kegiatan bersama dengan komunitas dan pelaku budayawan lain. Dalam orasi budayanya yang dilanjutkan dengan Tapa Kungkum diikuti oleh peserta ritual lainnya, Mbah Yongki Irawan menyampaikan kungkum adalah ajaran leluhur yang cukup purba, lalu kembali disebarkan oleh para pinisepuh dalam lelakunya di tlatah Jawa ini.

Tapa Kungkum dipercaya tidak hanya berefek membangun intuisi. Namun juga membangun kekuatan fisik agar lebih kuat dan tahan terhadap serangan penyakit. “Pada saat kungkum, aura negatif terkikis pelan namun pasti dan selalu diulangi kembali agar mendapatkan perasaan nyaman, plong, tanpa beban apapun,” cerita Mbah Yongki. Festival Kali Brantas melalui Larung Sesaji Labuh Kali ini telah mengajarkan kemenyatuan antara alam air dengan manusia.

Hadir dalam acara tersebut Dr.Ida Ayu Made Wahyuni,SH., Kepala Disporapar (Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata) yang turut serta mendukung giat Forkom Pokdarwis Kota Malang melalui Festival Kali Brantas.

“ Ini event menarik yang bernuansa budaya sebagai wujud pelestarian tradisi masyarakat jawa yang terus haru diuri-uri (dilestarikan). Kami berharap kedepan tiap tahun, kegiatan ini menjadi agenda rutin dan menjadi ciri khas event kebudayaan di Kota Malang serta jadi rintisan jika ada peningkatan yang menarik maka bisa menjadi event Wonderful Indonesia,” imbuh Ida yang juga menjadi Plt. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Malang.

Festival Kali Brantas di Kelurahan Dinoyo ini tidak berdiri sendiri, melainkan bebarengan dengan Festival Keramik Dinoyo ke-5 yang mempunyai banyak rangkaian acara. Tempatnyapun tidak terpisah dengan Festival Kali Brantas, hanya saja Festival Keramik Dinoyo ke-5 menempati seluruh area pabrik Keramik UPT Disperindag Jatim (Unit Pelaksana Teknis Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Timur). Acara diawali dengan senam sehat, menggambar keramik, mewarna keramik, membuat pola keramik, klinik UMKM serta Hadrah Dinoyo termasuk jaranan dan barongan Kampung Keramik Dinoyo.@CT.

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

0FansSuka
12PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan

Latest Articles